Posted by gio akram Senin, 03 Juni 2013 2 komentar

BAB I PARADIGMA ALTERNATIF PEMBELAJARAN

A.  Perlunya Paradigma Baru Pendidikan

Dalam proses pembelajaran misalnya, pengembangan suasana kesetaraan melalui komunikasi dialogis yang transparan, toleran, dan tidak arogan seharusnya terwujud di dalam aktivitas pembelajaran. Suasana yang memberi  kesempatan luas bagi setiap peserta didik untuk berdialog dan mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan diri dan potensinya. Hal ini menjadi sangat penting karena para pendidik juga adalah pemimpin yang harus mengakomodasi berbagai pertanyaan dan kebutuhan peserta didik secara transparan, toleran, dan tidak arogan, dengan membuka seluas-luasnya kesempatan-kesempatan dialog kepada peserta didik (Parkey1996). Para pendidik maupun peserta didik, sesuai dengan kapasitasnya, harus berusaha untuk mampu saling menghargai dan menghormati pendapat atau pandangan orang lain. Karena itu suasana pendidikan harus diciptakan dalam rangka mengembangankan dialog-dialog kreatif dimana setiap peserta didik diberi kesempatan yang sama untuk diskusi, berdebat, mengajukan dan merespon berbagai persoalan yang muncul dalam setiap kegiatan pembelajaran. Yang terpenting adlah bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menjadi sebijaksana mungkin menurut kemampuannya masing-masing. Suasana kesetaraan perlu dikembangkan dengan berorientasi pada upaya mendorong peserta didik agar mampu menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada diantara sesame secara harmonis dan rasional.

B.  Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidikan

Komisi pendidikan untuk abad XXI (Unesco 1996: 85) melihat bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah belajar (learning). Selanjutnya dikemukakan bahwa pendidikan bertumpu pada 4 pilar, yaitu: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, learning to live with others, dan (4) learning to be.

C.  Pembelajaran Sebagai Proses Pemberdayaan

Dalam proses pembelajaran, pengenalan terhadap diri sendiri atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalam upaya-upaya pemberdayaan diri (self empowering). Pengenalan terhadap diri sendiri  berarti pula kita mengenal kelebihan-kelebihan atau kekuatan yang kita miliki untuk mencapai hasil belajar yang kita harapkan. Melalui proses pembelajaran, guru dituntut untuk mampu membimbing dan memfasilitasi siswa agar mereka dapat memahami kekuatan serta kemampuan yang mereka miliki, untuk selanjutnya memberikan motivasi agar siswa terdorong untuk bekerja atau belajar sebaik mungkin untuk mewujudkan keberhasilan berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Untuk dapat memfasilitasi agar siswa dapat lebih mengenal kemampuannya, maka langkah awal yang perlu dilakukan guru adalah berusaha mengenal siswanya dengan baik. Guru perlu mengenal lebih mendalam tentang bakat, minat, motivasi, harapan-harapan siswa serta beberapa dimensi khusus kepribadiannya.
 
Secara lebih spesifik, beberapa dimensi kemampuan siswa yang perlu didorong dalam upaya pemberdayaan diri melalui proses belajar ini adalah:
  1. Mengetahui kekuatan keterbatasan diri
  2. Meningkatkan rasa percaya diri
  3. Dapat meningkatkan kemampuan menghargai diri dan orang lain
  4. Meningkatkan kemandirian dan inisiatif untuk memulai perubahan
  5. Meningkatkan komitmen dan tanggunga jawab
  6. Meningkatkan motivasi internal
  7. Meningkatkan kemampuan mengatasi masalah secara kreatif dan positif
  8. Meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan tugas secara professional
  9. Mendorong kemampuan pengendalian diri
  10. Meningkatkan kemampuan membina hubungan interpersonal yang baik
  11. Meningkatkan kemampuan beradaotasi dengan lingkungan

D. Paradigma Konstruktivisme Dalam Pembelajaran 

1. Memahami Paradigma Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan  respons terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan memprakarsai kegiatan belajarnya sendiri. Hampir sama kalangan yang terlibat didaam mengkaji masalah-masalah pembelajaran mengetahui bahwa konstuktivisme merupakan paradigma alternative pembelajaran yang muncul sebagai akibat revolusi ilmiah yang terjadi beberapa dasawarsa belakangan ini. Konstruktivisme merupakan suatu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994).  Von Glasersfeld mengemukakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realtas). Pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang.

2. Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Konstruktivisme memandang kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam upaya menemukan pengetahuan, konsep, kesimpulan, bukan merupakan kegiatan mekanistik untuk mengumpulkan informasi atau fakta. Dalam proses pembelajaran siswa bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya sendiri. Foucoult dalam The Arceology, menyatakan pendidikan yang membelenggu merupakan transfer pengetahuan, sedang yang membebaskan merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses transformasi yang di uji dalam dalam kehidupan nyata (Maksum & Ruhendi, 2004 : 178). Pemikiran-pemikiran yang mendasar inilah yang menyebabkan maka didalam proses pembelajaran siswa harus terus didorong untuk memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk mengembangkan penalaran terhadap apa yang ia pelajari, dengan cara mencari makna, membandingkan sesuatu yang baru dipelajari dengan pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Belajar dalam hal ini lebih di titikberatkan pada pengembangan pemikiran yang memungkinkan siswa mampu memberdayakan fungsi-fungsi fisik dan psikologis dirinya secara menyeluruh. Itulah sebabnya maka konstruktivisme menjadi landasan bagi beberapa teori belajar, misalnya teori perubahan konsep, teori belajar bermakna dan teori skema (Panen, Mustafa dan Sekarwinahyu, 2005: 16).

BAB 2: HAKIKAT DAN CIRI-CIRI BELAJAR

A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan penting  setiap orang, termasuk didalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Sebuah survey memperlihatkan bahwa 82% anak-anak yang masuk sekolah pada usia 5 atau 6 tahun memiliki citra diri yang positif tentang kemampuan belajar mereka sendiri. Tetapi angka tinggi tersebut menurun drastis menjadi hanya 18 % waktu mereka berumur 16 tahun. Konsekuensinya, 4 dan 5 remaja dan orang dewasa memulai pengalaman belajarnya yang baru dengan perasaan ketidaknyamanan (Nichol, 2002: 37).
Beberapa tokoh psikologi belajar memiliki persepsi dan penekanan penekanan tersendiri tentang hakikat belajar dan proses kearah perubahan sebagai hasil belajar. Berikut ini adalah beberapa kelompok teori yang memberikan pandangan khusus tentang belajar, diantarannya; (a) Behaviorisme, (b) Kognitivisme, (c) Teori Belajar Psikologi social, dan (d) Teori belajarGagne.

B. Ciri-ciri dan Tujuan Belajar
Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental, yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Dari segi guru proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung. Artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, akan tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar tersebut tampak melalui perilaku siswa mempelajari bahan belajar. Perilaku belajar tersebut ada hubungannya dengan desain instruksional guru,karena didalam desain instruksional, guru membuat tujuan instruksional khusus atau sasaran belajar.

BAB 3: PERKEMBANGAN MORAL DAN IMPLEMETASINYA DALAM PEMBELAJARAN

A. Teori Perkembangan Jean Piaget

Dalam teori Piaget mengemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang satu ke tahap yang lebih tinggi. Semua perubahan yang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang diperlukan untuk mengubah atau meningkatkan tahap perkembangan moral berikutnya.
Berkaitan dengan perkembangan moral, piaget mengemukakan dua tahap perkembangan yang dialami oleh setiap individu. Tahap pertama disebut Heterenomous atau tahap Relisme moral. Dalam tahap ini, seorang anak cenderung menerima begitu saja aturan-aturan yang diberikan oleh orang-orang yang berkompeten untuk itu. Tahap kedua disebut Autonomous morality atau independensi moral. Dalam tahap ini seorang anak akan memandang perlu untuk memodifikasi aturan-aturan untuk disesuaikan dengan situasi dan  kondisi yang  ada.
Dalam pandangan piaget tahap-tahap kognitif mempunyai kaitan yang sangat erat dengan empat karakteristik berikut:
  1. Setiap anak pada usia yang berbeda akan menempatkan cara-cara yang berbeda secara kualitatif, utamanya dalam cara berfikir atau memecahkan permasalahan yang sama.
  2. Perbedaan cara berpikir antara anak satu dengan yang lain seringkali dapat dilihat dan cara mereka menyusun kerangka berpikir yang saling berbeda. Dalan hal ini ada serangkaian langkah yang konsisten dalam rangka berpikirnya, dimana tiap-tiap anak akan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan usiannya.
  3. Masing-masing cara berpikir akan membentuk satu kesatuan yang terstruktur ini berarti pada tiap tahap yang dilalui seorang anak akan diatur sesuai dengan cara berpikir tertentu. Piaget mengakui bahwa cara-cara berfikir atau struktur tersebut pada dasarnya mengendalikan pemikiran yang berkembang.
  4. Tiap-tiap urutan dan tahap kognitif pada dasarnya merupakan suatu integrasi hirarkis dari apa yang telah dialami sebelumnya.       

B. Teori Perkembangan Moral Kohlberg

Kohlberg mencoba merevisi dan memperluas teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh piaget. Dalam perluasan teori ini kohlberg tetap menggunakan pendekatan dasar piaget yang menghadapkan anak-anak dengan serangkaian cerita-cerita yang memuat dilema moral. Namun demikian cerita-cerita atau situasi yang dikembangkan kohlberg agaknya lebih kompleks dari cerita-cerita yang dipergunakan oleh piaget.
Searah dengan piaget, Kohlberg melihat bahwa para remaja menerapkan struktur kognitif moral mereka pada dilema moral. Mereka menafsirkan segala tindakan dan perilku berkembang menurut struktur mental mereka sendiri. Dengan demikian kohlberg menemukan bahwa:
  1. Penilaian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional.
  2. Terdapat  sejumlah tahap pertimbangan moral yang sesuai dengan piaget.
  3. Penelitiannya membenarkan gagasan piaget, bahwa sekita usia 16 tahun pada masa remaja merupakan tahap tertinggi dalam proses tercapainya pertimbangan moral.

C. Pandangan Psikologi Sosial Erik H Erikson

Sepintas dapat dikemukakan bahwa Erik H Erikson adalah salah satu dari kelompok Neo-Freodian, dimana mereka yang tertitik tolak dari kerangka pemikiran psikonalisa freud. Meski dalam beberapa hal terdapat perbedaan pandangan dengan freud, antara lain menyangkut konsep perkembangan moral .
Mengenai tahap-tahap perkembangan psikososial ini Eikson mengemukakan adanya delapan tahap perkembangan yaitu:
  1. Trust vs Mistrust
  2. Auntonomy vs Doubt
  3. Initiative vs Guilt
  4. Industry vs Inferiority
  5. Identity vs Role Confusion
  6. Intimacy vs isolation
  7. Generativityvs self-obsorption                                                                                                                                   
  8. Integrity vs despair

D. Memadukan Pandangan Kohlberg, Piaget dan Erikson

Dari uraian yang dipaparkan terdahulu berkenaan dengan teori perkembangan moral yang dijadikan bahasan utama menurut Jean Piaget, Lawrence Kohlberg maupun kajian pembanding berdasarkan teori psikososial Erik H Erikson dapat dilihat beberapa kesamaan pandangan maupun perbedaan utamanya berkaitan dengan tahap-tahap perkembangan moral anak. Kesamaan yang pandangan yang paling nampak adalah pengakuan terhadap adanya tahap-tahap perkembangan anak dari tahap yang paling sedehana dan sangat realistik dalam memandang sesuatu sampel pada struktur yang lebih kompleks dan semakin abstrak, walaupun jumlah dan sebutan untuk masing-masing tahap berbeda menurut hasil penelitian dan kajian mereka masing-masing. Disamping adanya bagian-bagian tertentu yang menunjukan adanya kesamaan pandangan, juga terdapat perbedaan-perbedaan yang secara jelas terlihat dalam kejian yang mereka lakukan.
Moral berkaitan dengan disiplin dan kemajuan kualitas perasaan, emosi, dan kecenderungan manusia, sementara antara pelaksanaanya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konvensi lainnya meskipun kadang-kadang sesuai dengan kriteria moral.

E. Implementasi Keterpaduan Dalam Pembelajaran

1. Pemahaman Peserta Didik
Pemahaman peserta didik merupakan faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran. Pemahaman potensi peserta didik merupakan kerangka dasar bagi pemahaman peserta didik secara keseluruhan. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya pemahaman peserta didik mencangkup memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif.
Berkenaan dengan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, guru perlu memahami periode perkembangan kognitif anak. Pakar psikologi dari situs Jean Piaget mengemukakan empat periode perkembangan kognitif anak yaitu periode sensorikmotorik, periode operasi awal , periode operasi konkrit dan periode operasi formal.

2. Mengaktualisasi Potensi Siswa
Upaya-upaya pengembangan peserta didik agar mampu mengaktualisasi potensi-potensi yang dimilikinya merupakan tanggung jawab seluruh guru dalam praktek pelaksanaan pendidikan disekolah masih seringkali terdapat persepsi yang keliru yang memisahkan tanggung jawab guru dalam batas-batas pengembangan potensi tertentu dari peserta didik. Upaya pengembangan aspek-aspek nilai/moral hanya merupakan kewajiban guru-guru bidang studi tertentu saja, sehingga ada guru-guru yang mengasuh bidang studi tertentu saja, sehingga ada guru-guru yang mengasuh bidang studi yang lain merasa bahwa mereka hanya bertanggung jawab mengajarkan materi pelajaran yang manjadi bidang studi yang diajarkan.
 
3. Pemilihan Bahan Pembelajaran
Untuk terwujudnya iklim dan proses pembelajaran yang kondusif perlu di dukung oleh berbagai faktor, baik berkenaan dengan kemampuan guru, misalnya didalam memilih bahan ajar, sarana, dan fasilitas pendukung serta yang tidak kalah pentingnya kesiapan dan motivasi siswa untuk belajar dan mencapai hasil belajar yang optimal.
Dalam pemilihan bahan ajar ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, kecukupan.  Prinsip relevansi artinya materi pembelajaran harus relevan atau ada kaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Prinsipkecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kempetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak.

BAB 4: KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI HASIL BELAJAR

A. Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilantarkan pada tahun  1990 oleh psokolog  peter  salovey  dan haruard university dan jhon meyer dari university of new hamshire (shapro ,1997: 5).  Beberapa bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan, yaitu:
  1. Empati
  2. Mengungkapkan dan Memahami Perasaan
  3. Mengendalikan Emosi
  4. Kemandirian
  5. Kemampuan Mnyesuaikan diri
  6. Disukai
  7. Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
  8. Ketekunan
  9. Kesetiakawanan
  10. Keramahan
  11. Sikap Hormat

B. Ciri-ciri Kecerdasan Emosional

Galeman menggambarkan beberapa ciri kecerdasan emosional yang berpendapat pada diri sesorang berupa:
  1. Kemampuan memotivasi diri sendiri.
  2. Ketahanan menghadapi frustasi.
  3. Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan.
  4. Kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa.
Kemampuan-kemampuan ini ternyata mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap diri sesorang untuk mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan. Kemampuan memotivasi diri ssendiri merupakan kemampuan internal pada diri seseorang berupa kekuatan menjadi suatu energi yang mendorong seseorang untuk mampu mengerakan potensi-potensi fisik dan psikologis atau mental dalam melakukan aktivitas tertentu sehingga mampu mencapai keberhasilan yang diharapkan.
Walaupun kemampuan memotivasi diri menjadi sesuatu yang sangat penting sebagai wujud dari kemandirian anak, namun dalam proses perkembangannya anak masih memerlukan peran orang tua untuk memfasilitasi peningkatan motivasi mereka. Untuk itu sebagai orang tua maupun guru dapat membantu mengembangkan kemampuan menumbuhkan motivasi diri anak melalui:
1.    Mengajarkan anak mengharapkan keberhasilan.
2.    Menyediakan kesempatan bagi anak untuk menguasai lingkungannya.
3.    Memberikan pendidikan yang relevan dengan gaya belajar anak.
4.    Mengajarkan anak pentingnya menghadapi dan mengatasi kegagalan.

C. Emosi dan Kegunaannya 

Kecerdasan emosi merupakan bagian dari aspek kejiwaan seseorang yang paling mendalam,dan merupakan suatu kekuatan, karena dengan adanya emosi itu manusia dapat menunjukan keberadaannya dalam masalah-masalah manusiawi.emosi menyebabkan seseorang memiliki rasa anta yang sangat dalam sehingga seseorang bersedia melakukan sesuatu pengorbanan yang sangat besar  sekalipun,walau kadang–kadang pengorbanan itu secara lahiriah tidak memberikan keuntungan langsung pada dirinya bahkan mungkin mengorbankan dirinya sendiri.kekuatan emosi sering kali mengalahkan kekuatan nalar/sehingga ada suatu perbuatan yang mungkin secara nalar tidak mungkin dilakukan seseorang,tetepi karena kekuatan emosi kegiatan itu dilaakukan,seperti halnya peristiwa dari kasus yang diungkapkandi awal tulisan daniel goliman,dimana karena anta teramat kuat mendorong orang tua secara spontan memilih mengutamakan menyelamatkan anak tercintanya mengalahkan hasrat menyalamatkan diri sendiri.
Karena emosi merupakan suatu kekuatan yang dapat mengalahkan nalar/maka harus ada upaya untuk mengendahkan, mengatasi, dan mendisiplikan kehidupan emosional,dengan memberlakukan aturan-aturan guna mengurangi ekses-ekses gejolah emosi,terutama nafsu yang berlampau bebas dalam diri manusia yang sering kali mengalahkan nalar .
Manusia secara universal memiliki dua jenis tindakan pikiran yaitu tindakan emosional (perasaan) dan tindakan pikiran nasional (berpikir) kedua pikiran tersebut,yang emosional dan rasionaal,pada umumnya pekerja dalam keselarasan yang erat, saling melengkapi dalam mencapai pemahaman guna mengarahkan seseorang menjalani  kehidupan duniawi.

D. Kecakapan-Kecakapan Emosional

Upaya-upaya yang selama ini hampir seluruhnya diarahkan dalam meningkatkan standar akademis, pada akhir-akhir ini semakin dirasakan kepincangannya. Kecemasan yang sangat mendalam terhadap diperolehnya nilai-nilai buruk anak-anak dalam sejumlah mata pelajaran, dikejutkan lagi oleh kecemasan lain yang lebih besar lantaran banyak kasusu siswa yang mengejutkan justru tidak berkaitan dengan nilai-nilai akademis tersebut, misalnya bagaimana seseorang siswa dengan mudah tega membunuh teman dekatnya sendiri. Kekurangan lain yang menyebabkan  kecemasan lebih besar tersebut adalah buta emosi. Kekurangan baru berupa buta emosi yang dapat menimbulkan ekses-ekses negatif lebih besar ketimbang rendahnya standar akademis justru belum dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang baku. 

E. Penerapan Kecerdasan Emosional

Daya-daya emosi yang dimilikinya oleh orang-orang dewasa sesungguhnya berakar dari masa kehidupan kanak-kanak. Akar perbedaan emosi meskipun untuk sebagian bersifat biologis dapat pula diselusuri dari kehidupan masa kanak-kanak dan dari dua dunia emosi terpisah yang dihuni untuk laki-laki dan dihuni oleh anak-anak perempuan ketika mereka tumbuh dewasa.
Dalam proses pembelajaran, penerapan kecerdasan emosional dapat dilakukan secara luas dalam berbagai sesi, aktivitas dan bentuk-bentuk spesifik pembelajaran. Pemahaman guru terhadap kesedarsan emosional serta pengetahuan tentang cara-cara penerapannya kepada anak pada saat ini merupakan bagian penting dalam rangka membantu mewujudkan perkembangan potensi-potensi anak secara optimal. Karena itu berikut di uraikan bentuk konkrit upaya mengembangkan kecerdasan emosional anak:

1. Mengembangkan Empati dan Kepedulian
Satu diantara ciri kecerdasan emosional tersebut adalah kemampuan menghadirkan sesuatu yang terjadi pada orang lain dalam emosi kita sendiri. Shapiro (1997:49), menguraikan satu kasus yang memberikan inspirasi kepada kita untuk memahami empati. Beberapa cara yang perlu dilatihkan kepada anak untuk mengembangkan sikap empati dan kepedulian, antara lain:
1.  Mmperketat terutama pada anak mengenai sikap peduli dan tanggung jawab.
2.  Mengajarkan dan melatih anak mempraktekan perbuatan-perbuatan baik.
3.  Melibatkan anak didalam kegiatan-kegiatan layanan masyarakat.

2. Mengerjakan Kejujuran dan Integritas
Beberapa hal penting yang dapat dilakukan guru atau orang tua dalam menumbuhkan kejujuran anak, antara lain adalah:
  1. Usahakan agar pentingnya kejujuran terus menjadi topik perbincangan dalam rumah tangga, kelas dan sekolah.
  2. Membangun kepercayaan anak, dapat dilakukan baik dengan menyampaikan cerita-cerita yang bertemakan saling kepercayaan atau melalui berbagai bentuk permainan.
  3. Menghormati privasi anak, berarti memberikan ruang yang berarti bagi tumbuhnya rasa percaya pada anak dan penghargaan pada anak.
3. Mengajarkan memecahkan masalah
Dalam praktik pembelajaran, mengajarkan anak memecahkan masalah akan lebih baik bilaman juga sekaligus diajarkan cara-cara berpikir sistematik. Karena itu langkah-langkah pemecahan masalah berikut sangat tepat untuk diterapkan, yaitu:
a.    Mengidentifikasi masalah.
b.    Memikirkan alternatif pemecahan.
c.    Mmbandingkan alternatif-alternatif yang mungkin akan dipilih.
d.    Menentukan pemecahan yang terbaik.

BAB 5: PRINSIP PRINSIP BELAJAR 

A. Prinsip-prinsip Belajar

Agar aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran terarah pada upaya peningkatan potensi siswa secara komprehensip, maka pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, yang bertolak dari kebutuhan internal siswa untuk belajar. Davies (1991:32), mengingatkan beberapa hal yang dapat menjadikan kerangka dasar bagi penerapan prinsip-prinsip belajar belajar dalam proses pembelajaran, yaitu :
  1. Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya.
  2. Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
  3. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement).
  4. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran, memungkinkan murid belajar secara lebih berarti.
  5. Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat lebih baik.

B. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar dalam Pembelajaran

1. Prinsip perhatian dalam motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan dua aktivitas yang memiliki keterkaitan yang sangat erat. Untuk menumbuhkan perhatian diperlukan adanya motivasi. Sejumlah hasil penelitian bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar.
Hamalik (2001), mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Perubahan energi di dalam diri seseorang tersebut kemudian membentuk suatu aktivitas nyata dalam bebagai bentuk kegiatan.
Motivasi terkait erat dengan kebutuhan. Semakin besar kebutuhan seseorang akan sesuatu yang ingin ia capai, maka akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu akan mendorong seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga. Hanya dengan motivasilah anak didik dapat tergerak hatinya untuk belajar bersama teman-temannya yang lain (Djamarah, 2006:148).
Motivasi dapat bersifat internal dan eksternal. Beberapa penulis atau ahli yang lain menyebutnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi internal atau motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan suatu aktivitas. Motivasi eksternal adalah dorongan yang berasal dari luar diri individu. Motivasi eksternal melalui proses belajar dan interaksi individu dengan lingkungannya dapat berubah menjadi motivasi internal. Proses perubahan dari motivasi ekstrinsik menjadi motivasi intrinsik pada seseorang disebut “transformasi motif” (Dimyati dan Mudjiono, 1994:41).
Penerapan prinsip-prinsip motivasi dalam proses pembelajaran akan dapat berlangsung dengan baik, bilamana guru memahami beberapa aspek yang berkenaan dengan dorongan psikologis sebagai individu dalam diri siswa sebagai berikut :
  1. Setiap individu tidak hanya didorong oleh pemenuhan aspek biologis, sosial dan emosional, akan tetapi individu perlu juga dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang ia miliki saat ini.
  2. Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha.
  3. Motivasi dipengaruhi oleh unsr-unsur kepribadian.
  4. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar.
  5. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
  6. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terdapat motivasi dan perilaku.
  7. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena memang ingin belajar.
  8. Kompetisi dan insentif dalam waktu tertentu dapat meningkatkan motivasi.
  9. Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan.
  10. Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi.
Agar motivasi belajar siswa dapat tumbuh dengan baik maka guru harus berusaha :
  • Merancang atau menyiapkan bahan ajar yang menarik.
  • Mengkondisikan proses belajar aktif.
  • Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang menyenangkan.
  • Mengupayakan pemenuhan kebutuhan siswa di dalam belajar (misalnya kebutuhan untuk dihargai, tidak merasa tertekan, dsb)
  • Meyakinkan siswa bahwa mereka mampu mencapai suatu prestasi.
  • Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin pula memberitahukan hasilnya kepada siswa.
  • Memberitahukan nilai dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata sehari-hari.
2. Prinsip Transfer dan Retensi
Berkenaan dengan proses transfer dan retensi terdapat beberapa prinsip yaitu :
  1. Tujuan belajar dan daya ingat dapat menguat retensi.
  2. Bahan yang bermakna bagi pelajar dapat diserap lebih baik.
  3. Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi psikis dan fisik dimana proses belajar itu terjadi.
  4. Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang lebih baik.
  5. Penelaahan bahan-bahan faktual, keterampilan dan konsep dapat meningkatkan retensi.
  6. Proses belajar cenderung terjadi bila kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang memuaskan.
  7. Proses saling mempengaruhi dalam belajar akan terjadi bila bahan baru yang sama dipelajari mengikuti bahan yang lalu.
  8. Pengetahuan tentang konsep, prinsip dan generalisasi dapat diserap dengan baik dan dapat diterapkan lebih berhasil dengan cara menghubung-hubungkan penerapan prinsip yang dipelajari dengan memberikan ilustrasi unsur-unsur yang serupa.
  9. Transfer hasil belajar dalam situasi baru dapat lebih mendapatkan kemudahan bila hubungan-hubungan yang bermanfaat dalam situasi yang khas dan dalam situasi yang agak sama dapat diciptakan.
  10. Tahap akhir proses belajar seyogyanya memasukkan usaha untuk menarik generalisasi, yang pada gilirannya nanti dapat lebih memperkuat retensi dan transfer.
3. Prinsip Keaktifan
Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional dan fisik jika dibutuhkan. Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka pikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya anak-anak adalah makhluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif bilamana lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh suburnya keaktifan itu.
Menurut teori belajar Kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.
Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat ditransfer begitu saja dari pikiran orang yang mempunyai pengetahuan ke pikiran orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bahkan bila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide dan pegertian kepada seorang murid, pemindahan itu harus diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh si murid lewat pengalamannya (Glasersferld dalam Battencourt, 1989).
Dalam proses konstruksi itu menurut Glasersferld, diperlukan beberapa kemampuan; (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada pengalaman yang lain.
Implikasi prinsip keaktifan atau aktivitas bagi guru di dalam proses pembelajaran adalah:
  1. Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam prose pembelajarannya.
  2. Memberikan kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau inkuiri dan eksperimen.
  3. Memberikan tugas individual dan kelompok melalui kontrol guru.
  4. Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
e.  Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran.

4. Prinsip Keterlibatan Langsung
Sejumlah hasil penelitian membuktikan lebih dari 60% sesuatu yang diperoleh dari kegiatan belajar didapatkan dari keterlibatan langsung. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajarnya yang dituangkan di dalam kerucut pengalaman belajar mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui penglaman langsung. Keterlibatan langsung siswa memberi banyak sekali manfaat yang langsung dirasakan pada saat terjadinya proses pembelajaran tersebut.

Implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi guru adalah:
  1. Mengaktifan peran individual atau kelompok kecil di dalam penyelesaian tugas.
  2. Menggunakan media secara langsung dan melibatkan siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.
  3. Memberi keleluasaan kepada siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.
d.  Memberikan tugas-tugas praktek.
Bagi siswa, implikasi prinsip keterlibatan langsung ini adalah: (1) siswa harus terdorong aktif untuk mengalami sendiri dalam melakukan aktivitas pembelajaran, (2) siswa dituntut untuk aktif mengerjakan tugas-tugas.
 
5.  Prinsip Pengulangan
Teori belajar klasik yang memberikan dukungan paling kuat terhadap prinsip belajar pengulangan ini adalah teori psikologi daya. Berdasarkan teori ini, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang meliputi daya berpikir, mengingat, mengamati, manghafal, menanggapi dan sebagainya. Melalui latihan-latihan maka daya-daya tersebut semakin berkembang. Sebaiknya semakin kurang pemberian latihan, maka daya-daya tersebut semakin lambat perkembangannya.
Di samping teori psikologi daya, prinsip pengulangan ini juga didasari oleh teori Psikologi Asosiasi atau Connecsionisme yang dipelopori oleh teori Thorndike dengan salah satu hukum belajarnya “Low of exercise” yang mengemukakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons. Pandangan psikologi condisioning juga memberikan dasar yang kokoh bagi pentingnya proses latihan. Psikologi ini berpandangan bahwa munculnya respons, tidak saja disebabkan oleh adanya stimulus, akan tetapi lebih banyak disebabkan karena adanya stimulus yang dikondisikan.
Stephen R. Covey, pengarang buku The 7 Habits of Effective People, mengemukakan bahwa kebiasaan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita harus mempunyai ketiga hal tersebut.
Mari kita sejenak mengkaji bersama-sama prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran. Sebenarnya, prinsip-prinsip yang dimaksud dapat kita jumpai dalam berbagai sumber kepustakaan psikologi. Namun untuk mudahnya, dalam pembahasan ini akan dikemukakan prinsip-prinsip belajar yang diintisarikan oleh Rothwal (1961) sebagai berikut:
  1. Prinsip Kesiapan (Readiness)
  2. Prinsip Motivasi (Motivation)
  3. Prinsip Persepsi
  4. Prinsip Tujuan
  5. Prinsip Perbedaan Individual
  6. Prinsip Transfer dan Retensi
  7. Prinsip Belajar Kognitif
  8. Prinsip Belajar Afektif
  9. Proses Belajar Psikomotor
  10. Prinsip Evaluasi

BAB 6: MODEL MODEL PEMBELAJARAN

A. Hakikat Model Pembelajaran

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru menerapkan model-model pembelajaran yang berosientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif didalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Untuk dapat menerapkann model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasikan model-model tersebut dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap perkembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas. Demikian juga pentingnya pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia, kondisi kelas dan beberapa factor lain yang terkait dengan pembelajaran. Tanpa pemahaman terhadap berbagai kondisi ini, model yang dikembangkan guru cenderung tidak dapat meningkatkan peran serta siswa secara optimal dalam pembelajaran, dan pada akhirnya tidak dapat member sumbangan yang besar terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Lieach & Scott (1995), mengingatkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam memilih dan menentukanmodel pembelajaran dengan mengkaji kemana pembelajaran akandititikberatkan, apakah pada outcome, proses atau content. Dalam uraian masing-masing orientasi tersebut terdapat beberapa aspek kegiatan yang harus dilakukan guru.
a. Bilamana guru memutuskan untuk mengarahkan proses pembelajaran pada outcome, maka guru harus merumuskan beberapa pertanyaan untuk dirinya sendiri tentang:
  1.  Apakah yang saya harapkan dari siswa-siswa pada akhir pembelajaran.
  2. Jenis pengetahuan dan dorongan seperti apa yang saya harapkan dapat dimiliki oleh siswa.
  3. Jenis keterampilan yang seperti apa yang saya harapkan dapat didemonstrasikan oleh para siswa.
  4. Sikap dan nilai-nilai apa yang seharusnya dimiliki oleh siswa.
  5. Mengapa saya mengharuskan siswa-siswa mempelajari hal ini.
  6. Pengetahuan, sikap dan keterampilan apa yang seharusnya penting di miliki siswa yang harus saya ajarkan.
  7. Bagaimana cara saya mengetahui bahwa siswa dapat mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang saya harapkan.
b. Bilaman guru memutuskan untuk menitikberatkan pada content pemnbelejaran, maka guru harus merumuskan beberapa pertanyaan untuk dirinya sendiri tentang:
  1. Apa saja materi esensial yang harus dimengerti oleh siswa untuk mendukung hasil belajar yang saya harapkan.
  2. Apa yang menjadi sumber-sumber yang dapat dipergunakan untuk mendukung materi pembelajaran.
  3. Kemampuan berpikir siswa seperti apa yang perlu dinilai dan bagaimana cara saya melakukannya. Mengapa hal itu penting dilakukan.
  4. Kekeliruan pemahaman dan miskonsepsi seperti apa yang umumnya terjadi dalam penyampaian materi yang dilakukan.
  5. Bagaimana saya dapat meminimalisasi atau mengurangi kekeliruan pemahaman dan miskonsepsi pada siswa.
c. Bilamana guru memutuskan untuk menitikberatkan pada proses pembelajaran, maka guru harus merumuskan beberapa pertanyaan untuk dirinya sendiri tentang:
  1. Bagaimana strategi yang harus dilakukan agar para siswa dapat lebih muda memahami melalui pembelajaran yang dilakukan.
  2. Bagaimana siswa dapat mengembangkan keterampilan-keterampilannya.
  3. Bagaimana siswa dapat mengembangkan sikap dan nilai.
  4. Bagaimana struktur pengorganisasian kelas yang harus dikembangkan untuk mendukung terjadinya proses  pembelajaran yang efektif.
  5. Apa saja jenis atau bentuk strategi pembelajaran yang menjadi penekanan jika dikaitkan dengan jenis sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dikembangkan melalui proses pembelajaran yang dilakukan.
  6. Bagaiman merancang dan mengorganisasi materi pelajaran agar siswa mudah mempelajarinya.
  7. Apakah siswa memiliki pengetahuan , keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk mendukung strategi pembelajaran yang di kembangkan.
  8. Seberapa banyak waktu, ruang dan sumber-sumbe belajar yang dimiliki sehingga dapat mendukung strategi pembelajaran yang dipergunakan.
  9. Apakah strategi pemotivasian dapat dipergunakan untuk mempercepat tumbuhnya rasa percaya diri para siswa.
  10. Bagaiman cara mengetahui bahwa pelajaran yang dilaksanakan secara optimal seperti yang direncanakan.

B. Kelompok dan Jenis-jenis Model Pembelajaran

1. Kelompok Model Interaksi Sosial (Social interaction models)
Model interaksi social adalah suatu model pembelajaran yang beranjak dari pandangan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari realitas kehidupan, individu tidak mungkin melepasakan dirinya dari interaksi dengan orang lain. Karena itu proses pembelajaran harus dapat menjadi wahana untuk mempersiapkan siswa agara dapat berinteraksi secara luas dengan masyarakat. Kelompok model-model social ini dirancang dengan memanfaatkan kerjasama antara siswa melalui berbagai bentuk kegiatan nyata aktivitas pembelajaran baik yang dilaksanakan dikelas maupun diluar kelas. Model interaksi social didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu: (1) masalah-masalah social dapat diidentifikasi dan dipecahkan melalui kesepakatan-kesepakatan bersama melalui proses-proses social dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, (2) proses social yang demokratis perlu dikembangkan dalam upaya perbaikan system kehidupan social masyarakat secara terarah dan berkesinambungan. Kelompok model interaksi social inimeliputi sejumlah model yaitu: investigasi kelompok (Group investigation), bermain peran (Role playing), penelitian yurisprodensial (Yurisprodential inquiry), latihan laboratories (Laboratory Training), penelitian ilmu social (Sosial science inquiry).

a.  Model investigasi kelompok (Group investigation)
Joyce, Weil, Calhoun (2000:16), mengungkapkan bahwa model investigasi kelompok menawarkan agar dalam mengembangakan masalah moral dan social, siswa diorganisasikan dengan cara melakukan penelitian bersama terhadap masalah-masalah moral dan social , maupun masalah akademis. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengekporasi berbagai cakrawala mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangan dan mengetes hipotesis.
Seorang guru dapat menggunakan strategi investigasi kelompok didalam proses pembelajaran dengan beberapa keadaan antara lain sebagai berikut: N(1) bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi atau materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yag terpusat pada guru, (2) bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih mengerti tetang ide-ide yang disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan, (3) bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topic dan memotivasi mereka membicarakan bebagai persoalan diluar kelas, (4) bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi yang berasal dari penelitian-penelitian orang lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman yang kurang positif, (5) bilaman guru bermaksud mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat mereka pergunakan didalam situasi belajara yang lain, (6) bilamana guru menginginkan peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.
Penerapan model investigasi kelompok dalam proses pembelajaran memberikan dampak instruksional dan dampak pengiring (nurturant effect). Dampak pembelajaran terutama sekali berupa terwujudnya proses efektivitas kelompok, mengembangkan wawasan dan pengetahuan serta dapat menumbuhkan disiplin dalam inquiry kolaboratif. Penerapan model investigasi kelompok juga memiliki dampak nurturan terutama sekali berupa kebebasan sebagai pelajaran, menumbuhkan harga diri serta mengembangkan kehangatan dan affiliasi.

b.  Model bermain peran (Role playing)
Model ini dirancang khusus untuk membantu siswa mempelajari nilai-nilai social dan moral dan pencermiannya dalam perilaku.Disamping itu model ini juga dugunakan untuk membantu para siswa mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu moral dan social, mengembangkan empati terhadap orang lain, dan berupaya memperbaiki keterampilan social.Sebagai model mengajar, model ini mencoba membantu individu untuk menemukan makna pribadi dalam dunia social dan berupaya memecahkan dilema-dilema social dengan bantuan kelompok. Karena itu pada dimensi social model ini memungkinkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi  social, terutama permasalahan interpersonal melalui cara-cara yang demokratis guna menghadapi situasi tersebut.Model bermain peran lebih menitikberatkan keterlibatan partisipan dan pengamat dalam situasi atau masalah nyata serta berusaha mengatasinya. Melalui proses ini disajikan contoh perilaku kehidupan manusia yang merupakan contoh bagi siswa untuk menjajagi perasaannya, menambah pengetahuan tentang sikap, nilai-nilai dan persepsinya.
Shaftel dalam sebuah buku yang berjudul “Role Playing for Social Studies”, yang dibahas kembali oleh Sumantri dan Permana (1998/1999) menyarankan 9 langkah penerapan role playing didalam pembelajaran, yaitu: Fase Pertama membangkitkan semangat kelompok, memperkenalkan siswa dengan masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yang harus dipelajari.
Fase Kedua pemilihan peserta, dimana guru dan siswa menggambarkan berbagai karakter/bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka kemukakan. Fase ketiga, menentukan arena panggung, para pemain peran membuat garis besar scenario, tetapi tidak mempersiapkan dialog khusus.Fase keempat, mepersiapkan pengamat.Pelibatan pengamat secara aktif merupakan hal yang sangat penting agar semua anggota kelompok mengalami kegiatan tersebut dan kemudian menganalisisnya.Fase kelima, pelaksanaan kegiatan, pada fase ini para pemeran mengasumsikan peranya, menghayati situasi secara spontandan saling merespon secara realistic.Fase ke enam, berdiskusi dan mengevaluasi.Fase ke tujuh, melakukan lagi permainan peran.Faseke delapan, dilakukan lagi diskusi dan evaluasi.Fase ke Sembilan, berbagai pengalaman dan melakukan generalisasi. Guru harus mencoba untuk membentuk diskusi, setelah mengalami strategi bermain peran yang cukup lama, untuk dapat menggeneralisasi mengenai pendekatan terhadap situasi masalah serta akibat-akibat dari pendekatan itu.
 
c.  Model penelitian yurisprodensial (Yurisprodential inquiry)
Dalam model ini para siswa sengaja dilibatkan dalam masalah-masalah social yang menuntut pembuatan kebijakan pemerintah yang diperlukan serta berbagai pilihan untuk mengatasi isu tersebut, misalnya tentang konflik moral, toleransi dan sikap-sikap social lainnya.Model ini bertujuan membantu siswa belajar berpikir secara sistematis tentang isu-isu mutahir.
Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan penerapan model yurisprodensi didalam proses pembelajaran meliputi enam fase. Fase pertama, guru memperkenalkan materi kepada siswa dengan membacakan cerita atau sejarah, menyaksikan film tentang kontroversi nilai, atau mendiskusikan sesuatu yang terlibat.Fase kedua, para siswa diminta memahami dan menghayati melalui pengertian mereka tentang masalah atau isu ang didengar atau disaksikan.Fase ketiga, siswa diminta untuk menentukan sikap dirinya terhadap isu yang dikebangkan dan landasan pemikirannya.Fase keempat, siswa diminta untuk memperjelas konflik-konflik nilai dengan analoginya.Fase kelima, memperjelas alasanposisi nilai.Fase keenam, menguji posisi sisa terhadap nilai dan mengkajinya secara cermat.
2. Kelompok Model Pengolahan Informasi (Information Processing Model)
Kelompok model pengolah informasi salah satu kelompok model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Ada beberapa bentuk model yang dapat dipertimbangkan guru untuk diterapkan didalam pembelajaran yang termasuk kelompok model ini:
a. Berpikir induktif (inductive thinking)
Joice, Weil dan Calhoun (2000: 140), mengemukakan beberapa strategi berpikir induktif yang sekaligus juga menggambarkan langkah-langkah pengembangan kemampuan berpikir induktif :
Strategi pertama, adalah pembentukan konsep meliputi tahap perhitungan dan pendaftaran, tahap pengelompokan, dan pemberian label atau kategorisasi. Strategi kedua, interprestasi data yang meliputi tahap mengidentifikasi hubungan anatar data atau masalah.Strategi ketiga, aplikasi prinsip yang meliputi tahap memperediksi konsekuensi, menjelaskan fenomena-fenomena dan menguji hipotesis.

b. Pencapaian konsep (concept attainment)
Penerapan model pencapaian konsep dalam pembelajaran meliputi tiga tahap pokok, yaitu: Tahap pertama, presentasi data dan identifikasi konsep. Tahap kedua, menguji pencapaian konsep.Tahap ketiga, menganalisi kemampuan berpikir strategis.

c. Memorisasi
Penerapan model memorisasi didalam proses pembelajaran dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) mencermati materi, (2) mengembangkan hubungan yaitu menemukan hubungan antara materi-materi yang dimiliki, (3) mengembangkan sensori image, dengan menggunakan teknik-teknik yang lucu atau mungkin dengan kata-kata yang berlebihan sehingga lebih muda diingat, (4) melatih re-call dengan memperhatikan tahapan sebelumnya dan hal ini harus dipelajari secara terus menerus.

d. Advance Organizer
Model ini dikembangkan berdasarkan pemikiran Ausubel tentang materi pembelajaran struktur kognitif.Model advance organizer terdiri dari tiga tahap.Tahap pertama, menjelaskan panduan pembelajaran.Tahap kedua, menjelaskan materi dan tugas-tugas pembelajaran.Tahap ketiga, memperkokoh pengorganisasian kognitif.

e. Penelitian ilmiah (scientific inquiry)
Model penelitian ini alam proses pembelajaran menuntut terciptanya iklim kelas yang kooperatif. Tugas guru yang pertama adalah membimbing terlaksananya proses inquiry dan mendorong siswa agar berpartisipasi secara aktif. Selanjutnya juga mengarahkan siswa dalam proses pengujian hipotesis interprestasi data dan mengembangkan konstruksi temuan-temuan dari inquiry yang dilakukan.

f. Synectics
Penerapan model sinektik didalam proses pembelajaran dilakukan melalui enam tahap: (1) guru menugaskan siswa untuk mendeskripsikan situasi yang ada sekarang, (2) siswa mengembangkan berbagai analogi, (3) siswa menjadi bagian dari analogi, (4) siswa mengembangkan pemikiran dalam bentuk deskripsi-deskripsi dari yang dihasilkan, (5) siswa menyimpulkan dan menentukan analogi-analogi tidak langsung lainnya, (6) guru mengarahkan agar siswa kembali pada tugas dan masalah semula dengan menggunakan analogi-analogi terakhir atau dengan menggunakan seluruh pengalaman sinektik.

3. Kelompok Model Personal (The personal Family Model)
Model Personal dikembangkan dengan beberapa tujuan esensial: (1) untuk mengarahkan perkembangan dan kesehatan mental dan emosional melalui pengembangan rasa percaya diri dan pandangan realistic tentang dirinya, dengan membangun rasa simpati dirinya terhadap orang lain, (2) mengembangkan keseimbangan proses pendidikan beranjak dari kebutuhan dan aspirasi siswa sendiri, (3) mengembangkan aspek-aspek khusus kemampuan berpikir kualitatif.Model personal pada dasarnya beranjakdari pandangan tentang “kedirian” indvidu.Yang termasuk dalam model ini adalah model pembelajaran tanpa arahan (nom directive teaching), dan model-model yang terarah pada peningkatan rasa percaya diri.

4. Kelompok Model-Model Sistem Perilaku
Model Pembelajaran behaviorial pada mulanya dikembangkan pada eksperimen terhadap kondisi yang bersifat klasikal oleh Pavlov, kemudian dikembangkan oleh Thordike dalam bentuk system raward di dalam pembelajaran. Model ini memusatkan perhatianpada perilaku yang teramati (terobservasi).Beranjak dari psikologi behavioristic, model mengajar kelompok ini mementingkan penciptaan system lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan tingkah laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk pola tingkah laku yang di kehendaki. ,odel ini juga dikenal pula sebagai model modifikasi perilaku atau Behaviorial modification, terapi perilaku atau Behaviorial Therapy dan Siernetika atau Cybernetic (Winataputra, 2005:7).
Terdapat beberapa bentuk model yang termasuk kelompok model ini, yaitu: Belajar tuntas (Mastery Lerning), Pengajaran Langsung (Direct Instruction), Simulasi (Simulation), dan Belajar social (Social Learning).

BAB 7: MASALAH MASALAH BELAJAR

A. Masalah-masalah internal Belajar
1. Faktro Internal
a. Ciri Khas/Karekteristik Siswa
Dapat dilihat dari kesediaan siswa untuk mencatat pelajaran, mempersiapkan buku, alat-alat tulis atau hal-hal yang diperlukan. Namun, bila mana siswa tidak memiliki minat untuk belajar, maka siswa tersebut cenderung mengabaikan kesiapan belajar.

b. Sikap Terhadap Belajar
Sikap siswa dalam proses belajar, terutama sekali ketiak memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk diperhatikan karena aktivitas belajar siswa banyak ditentukan oleh sikap siswa ketika akan memulai kegiatan belajar. Namun, bila lebih dominan sikap menolak sebelum belajar maka siswa cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti kegiatan belajar.

c. Motivasi Belajar
Di dalam aktivitas belajar, motivasi individu dimanfestasikan dalam bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak, mengerjakan tugas dan sebagainya. Umumnya kurang mampu untuk belajar lebih lama, karena kurangnya kesungguhan di dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu, rendahnya motivasi merupakan masalah dalam belajar yang memberikan dampak bagi ketercapaianya hasil belajar yang diharapkan.

d. Konsentrasi Belajar
Kesulitan berkonsentrasi merupakan indikator adanya masalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu akan menjadi kendala di dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan. Untuk membantu siswa agar dapat berkonsentrasi dalam belajar tentu memerlukan waktu yang cukup lama, di samping menuntut ketelatenan guru.

e. Mengelolah Bahan Ajar
Siswa mengalami kesulitan di dalam mengelolah bahan, maka berarti ada kendala pembelajaran yang dihadapi siswa yang membutuhkan bantuan guru. Bantuan guru tersebut hendaknya dapat mendorong siswa agar memiliki kemampuan sendiri untuk terus mengelolah bahan belajar, karena konstruksi berarti merupakan suatu proses yang berlangsung secara dinamis.

f.  Menggali Hasil Belajar
Bagi guru dan siswa sangat penting memperhatikan proses penerimaan pesan dengan sebaik-baiknya terutama melalui pemusatan perhatian secara optimal. Guru hendaknya berupaya mengaktifkan siswa melalui pemberian tugas, latihan, agar siswa mampu meningkatkan kemampuan dalam mengolah pesan-pesan pembelajaran.
 
g. Rasa Percaya Diri
Salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran adalah rasa percaya diri. Rasa percaya diri umumnya muncul ketika seseorang akan melakukan atau terlibat di dalam suatu aktivitas tertentu di mana pikirannya terarah untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkannya. Hal-hal ini bukan merupakan bagian terpisah dari proses belajar, akan tetapi merupakan tanggung jawab yang harus diwujudkan guru bersamaan dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan.

h. Kebiasaan Belajar
Adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas belajar yang dilakukan.
 Ada beberapa bentuk kebiasaan belajar yang sering dijumpai :
a)    belajar tidak teratur
b)    daya tahan rendah
c)     belajar hanya menjelang ulangan atau ujian
d)    tidak memiliki catatan yang lengkap
e)    sering datang terlambat, dan lain-lain

Jenis-jenis kebiasaan belajar di atas merupakan bentuk-bentuk perilaku belajar yang tidak baik karena mempengaruhi aktivitas belajar siswa dan dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar yang diperoleh.

B.  Faktor-faktor Eksternal Belajar

1.  Faktor Guru
Guru harus mengembangkan strategi pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan informasi, melainkan juga mendorong para siswa untuk belajar secara bebas dalam batas-batas yang ditentukan sebagai anggota kelompok.
Bilamana dalam proses pembelajaran, guru mampu mengaktualisasikan tugas-tugas guru dengan baik, mampu memotivasi, membimbing dan memberi kesempatan secara luas untuk memperoleh pengalaman, maka siswa akan mendapat dukungan yang kuat untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan, namun jika guru tidak dapat melaksanakannya, siswa akan mengalami masalah yang dapat menghambat pencapaian hasil belajar mereka.
2. Lingkungan Sosial (Teman Sebaya)
Lingkungan sosial dapat memberi dampak positif dan negatif terhadap siswa. Contoh seorang siswa bernama Rudi yang terpengaruh teman sebayanya dengan kebiasaan rekan-rekannya yang baik, maka akan berdampak positif dan sebaliknya.
Pada sisi  lain lingkungan sosial dapat memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. Tidak sedikit siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar karena pengaruh teman sebayanya yang mampu memberi motivasi kepadanya untuk belajar.
3.  Kurikulum Sekolah
Kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai rangka atau acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Seluruh aktivitas pembelajaran, maka dipastikan kurikulum tidak akan mampu memenuhi tuntunan perubahan di mana perubahan kurikulum pada sisi lain juga menimbulkan masalah, yaitu :
(a)   tujuan yang akan dicapai berubah
(b)   isi pendidikan berubah
(c)   kegiatan belajar mengajar berubah
(d)   evaluasi belajar

4.  Sarana dan Prasarana
Ketersediaan prasarana dan sarana pembelajaran berdampak pada terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. Terjadinya kemudahan bagi siswa untuk mendapatkan informasi dan sumber belajar yang pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya motivasi untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Oleh karena itu sarana dan prasarana menjadi bagian yang penting untuk tercapainya upaya mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang diharapkan.

C. Mengenal dan Mengatasi Belajar Siswa

Agar bimbingan dapat lebih terarah dalam upaya menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka perlu diperhatikan langkah-langkah berikut :
a. Indentifikasi
Identifikasi Adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan :
  1. Data dokumentasi hasil belajar mereka
  2. Menganalisis absensi siswa di dalam kelas
  3. Mengadakan wawancara dengan siswa 
  4. Tes untuk memberi data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang sedang dihadapi
b.  Diagnosis
Diagnosis Adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengelolaan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
•  Keputusan mengenai hasil kesulitan belajar siswa
•  Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang mengalami kesulitan belajar
c. Prognosis
Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa.
d. Terapi
Terapi di sini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapinya antara lain :
•   Bimbingan belajar kelompok
•   Bimbingan belajar individu
•   Pengajaran remedial
•   Pemberian bimbingan pribadi
•   Alih tangan kasus
 
e.  Tindak Lanjut
 Adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjut yang didasari evaluasi.

BAB 8: EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. Pengertian dan Prinsip Umum Evaluasi

Proses pembelajaran yang baik dapat dilakukan oleh siswa baik didalam maupun diluar kelas, dan dengan karakteristik yang dimiliki oleh siswa diharapkan mereka mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman- temannya secara baik dan bijak. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan informasi secara sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran.
Untuk memperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi. Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran.

B.    Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran

a. Untuk pengembangan
Berdasarkan hasil penilaian diperoleh balikan yang sangat berrnanfaat bagi kegiatan pembelajaran, sifat materi yang diajarkan, metode pembelajaran yang digunakan,dan yang lain dapat dikembangkan atas dasar hasil evaluasi. Informasi yang didapat dari evaluasi dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perenca­naan sekolah untuk masa‑masa yang akan datang.
 
b. Untuk akreditasi                                                                
Dengan mengdakan penilaian akan diketahui bagaimana hasi1 belajar siswa, bagairnana kondisi belajar yang didapatkan oleh sekolah, sudah sesuai dengan harapan atau belum. Hasil belajar merupakan cermin kualitas suatu sekolah. Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ke tahun dapat digunakan se­bagai pedoman bagi sekolah, sudah memenuhi standar atau belum.

C. Syarat-syarat Umum Evaluasi

Dalam menyelenggarakan atau mengadakan kegiatan evaluasi, kita perlu memperhatikan syarat-syarat yang harus dipenuhi kegiatan evaluasi tersebut. Terurai berikut ini :
a.   Kesahihan
Untuk memperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan instrumen yang memiliki/memenuhi syarat kesahihan suatu instrumen evaluasi. Kesahihan instrumen evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesahihan hasil evaluasi meliputi :
  1. Faktor instrumen evaluasi itu sendiri.
  2. Faktor-faktor administrasi evaluasi dari penskoran, juga merupakan faktor-faktor yangmempunyai suatu pengaruh yang mengganggu kesahihan interpertasi hasil evaluasi.
  3. Faktor-faktor dalam respon-respon siswa merupakan faktor-faktor yang lebih banyak mempengaruhi kesahihan daripada faktor yang ada dalam instrumen evaluasi atau pengadministrasiannya.
b. Keterandalan
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrumen evaluasi mampu memberikan hasil yang tetap (Arkunto, 1990:81). Memungkinkan terjadinya kesahihan karena adanya keajegan, tidak selalu menjamin bahwa hasil yang handal (reliabel) akan selalu menjamin bahwa hasil evaluasi sahih (valid). Dan sebaliknya keterandalan tidak dijamin ada pada hasil evaluasi yang memenuhi syarat kesahihan. Keterandalan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
  1. Panjang tes (length of test). Panjang tes berhubungan dengan banyaknya butir tes, yang pada umumnya terjadi lebih banyak butir tes lebih tinggi keterandalan evaluasi.
  2. Sebaran skor (spread of scores). Koefisien keterandalan secara langsing dipengaruhi oleh sebaran skor dalam kelompok tercoba. Dengan kata lain, besarnya sebaran skor akan membuat perkiraan keterandalan yang lebih tinggi akan terjadi menjadi kenyataan.
  3. Tingkat kesulitan tes (difficulty of test). Tes acuan norma (norm referenced test) yang paling mudah atau paling sukar untuk anggota-anggota kelompok yang mengerjakan, cenderung menghasilkan skor keterandalan yang rendah. Ini disebabkan antara hasil tes yang mudah dan yang sulit keduanya dalam satu sebaran skor yang terbatas.
  4. Objektivitas (obyectivity). Objektivitas suatu tes menunjuk kepada tingkat skor kemampuan yang sama ( yang dimiliki oleh siswa satu dengan siswa yang lain ) memperoleh hasil yang sama dalam mengerjakan tes.

c.  Kepraktisan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepraktisan instrumen evaluasi meliputi :
  1. Kemudahan mengadministrasi. Jika instrumen evaluasi diad-ministrasikan oleh guru atau orang lain dengan kemampua yang terbatas, kemudahan pengadministrasian adalah suatu kualitas penting yang diminta dalam instrumen evaluasi.
  2. Waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi. Kepraktisan dipengaruhi pula oleh faktor waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi.
  3. Kemudahan menskor. Secara tradisional, hal yang membosankan dan aspek yang menggangu dalam melancarkan evaluasi adalah penskoran. Guru seringkali bekerja berat berjam-jam untuk melaksanakan tugas ini.
  4. Kemudahan interpretasi dan aplikasi. Dalam analisis terakhir, keberhasilan atau kegagalan evaluasi ditentukan oleh penggunaan hasil evaluasi. Jika hasil evaluasi diterjemahkan/ditafsirkan secara tepat dan diterapkan secara efektif, hasil evaluasi akan mendukung terhadap keputusan-keputusan pendidikan yang lebih tepat.
  5. Tersedianya bentuk instrumen evaluasi yang ekuivalen atau sebanding. Untuk berbagai kegunaan pendidikan. Bentuk-bentuk ekuivalen untuk tes yang sama seringkali diperlukan sekali. Bentuk-bentuk ekuivalen dari sebuah tes mengukur aspek-aspek perilaku melalui butir-butir tes yang memiliki kesamaan dalam isi, tingkat kesulitan, dan karakteristik lainnya.

D. Jenis-jenis Evaluasi

a. Evaluasi Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
b. Evaluasi Selektif
Evaluasi selektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siswa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
c. Evaluasi Penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d. Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.
e. Evaluasi sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan bekerja siswa.
 
1. Jenis Evaluasi Berdasarkan Sasaran. 
a. Evaluasi Konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan
b. Evaluasi Input
Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
c. Evaluasi Proses
Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.
d. Evaluasi Hasil Atau Produk
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.
e. Evaluasi Outcom Atau Lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yankni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

2.  Jenis Evalusi Berdasarkan Lingkup Kegiatan Pembelajaran
a.  Evaluasi Program Pembelajaran
Evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspek-aspek program pembelajaran yang lain.
b.  Evaluasi Proses Pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara proses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

c.  Evaluasi Hasil Pembelajaran

Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.
3. Jenis Evaluasi Berdasarkan Objek Dan Subjek Evaluasi
a. Berdasarkan Objek:
1.    Evaluasi Input
2.    Evaluasi Transformasi
3.    Evaluasi output
b. Berdasarkan Subjek:
1.    Evaluasi internal
2.    Evaluasi eksternal

E. Pendekatan Evaluasi Pembelajaran

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP), Criterion Reference Test (CRT)
Penilaian Acuan Patokan yang juga disebut penilaian dengan norma absolut atau norma aktual merupakan norma penilaian yang ditetapkan secara absolut (mutlak) oleh guru atau pernhuat tes. berdasarkan atas jumlah soal, bobot masing-masing soal serta prosentase penguasaan yang dipersyaratkan (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 78). Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Dengan didasarkan pada
kriteria atau standard khusus. dimaksudkan untuk menclapat gambaran yang jells tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut clibandingkan dengan performan yang lain. Dengan kata lain tes acuan kriteria cligunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan domain perilaku yang ditetapkan/dirumuskan dengan baik.
2. Penilaian Acuan Normatif (PAN), Norm Reference Test (ART)
Norma relatif yang disebut juga norma aktual, norma empiris atau dinamakan juga Penilaian Acuan Norma (PAN). Norma relatif adalah suatu norma yang disusun secara relatif berdasarkan distribusi skor yang dicapai oleh peserta tes. Pada pendekatan acuan norma, standar performan yang digunakan bersifat relatif' Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya.
Baik pendekatan melalui Penilaian Acuan Patokan (PAP) maupun penilaian acuan norma, keduanya masing-masing memiliki masing-masing kelemahan Norma absolut baik dipergunakan apabila derajat kesukaran dari tes yang dipergunakan betul-betul telah memenuhi syarat tes yang baik, misalnya pada tes yang sudah distandarisasikan, atau pada tes-tes yang telah mengalami revisi-revisi berdasarkan analisis empiric dan analisis rasional yang cukup memadai. Bilamana derajat kesukaran tes yang dipergunakan tidak memenuhi syarat tes yang baik, maka penggunaan norma absolut menjadi kurang tepat.
Penilaian Acuan Norma (PAN) tepat dipergunakan bilamana distribusi kecakapan atau kemampuan kelompok anak yang diberikan tes mengikuti hukum kurve normal. Tetapi bilamana distribusi kecakapan anak-anak yang mengikuti tes tidak mengikuti hukum distribusi normal, maka penggunaan norma relatif tidak dapat memberikan gambaran yang obyektif.

BAB 9: MEMAHAMI PEMBELAJARAN ELEKTRONIK (E-LEARNING)

A. Kedudukan E-Learning Dalam Teknologi Pendidikan

Selama ini kita telah mengenal bahkan menggunakan beberapa bentuk teknologi pendidikan yang untuk membantu kegiatan-kegiatan pembelajaran. Beberapa alat bantu tersebut misalnya OHP, LCD, Projektor, penggunaan komputer, dan penggunaan beberapa bentuk peralatan laboratorium. Munculnya alat bantu dalam berbagai bentuk teknologi pendidikan tersebut membawa nuansa baru dalam dunia pendidikan, terutama dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Sambutan masyarakat para pengguna teknologi pendidikan sangat besar, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama teknologi ini sudah begitu familiar dalam membantu kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.
Menyelusuri proses perkembangannya, E-Learning seperti diuraikan dalam sebuah situs wikipedia Indonesia (2008), teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh universitas lllionis di Urbana Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (Computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu perkembangan E-Learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
  1. Tahun 1990; era CBT (Computer Based Trainning), dimana mulai bermunculan aplikasi E-Learning yang di operasikan dalam PC Standalone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM isi materinya dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) dalam format “move”,”mpeg-1”, atau “’avi”.
  2. Tahun 1994; seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan di produk secara massal.
  3. Tahun 1997; LMS (Learning Management System), seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat didunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak, dan jarak serta lokasi bukan lagi merupakan rintangan untuk terjadinya komunikasi.
 Secara lebih spesifik dapat diuraikan beberapa ciri dari pembelajaran E-Learning, yaitu:
  1. E-Learning merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memberi penekanan pada penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan, secara online.
  2. E-Learning menyediakan seperangkat alat yang dapat meperkaya nilai belajar tradisional (model belajar klasikal, kajian terhadap buku teks, CD ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan global.
  3. E-Learning tidak berarti menggantikan sistem belajar klasikal yang dipraktikan, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan informasi tentang substansi (content) dan mengambangkan teknologi pendidikan.
  4. Kapasitas pembelajaran sangat bervariasi. Hal ini tergantung pada bentuk konten serta alat penyampaian informasi atau pesan-pesan pembelajaran dan gaya belajar. Bilamana konten dikemas dengan baik dan didukung dengan alat penyampaian informasi dan gaya belajar secara serasi, maka kapasitas belajar ini akan lebih baik yang pada gilirannya akan memberikan hasil yang lebih baik yang pada giliranya akan memberikan hasil yang lebih baik (Cesco, 2001).

B. Bahan Belajar Berbasis E-Learning

Munir (2004:56) mengemukakan bahwakonsep bahan belajar berbasisi E-Learning dikembangkan berdasarkan teori kognitif dan teori pembelajaran yang dinyatakan dalam teori-teori:
1.  Adaptif Learning Theory
Adaptif Learning Theory, mengisyaratkan bahwa para siswa memasuki proses pembelajaran pada tahap pencapaian dan pengalaman yang berbeda. Untuk itu guru perlu menggunakan berbagai bahan dan strategi pembelajaran untuk memenuhi pencapaian dan pengalaman yang berbeda tersebut. Ini  juga bermakna perangkat lunak atau bahan belajar E-Learning yang dibuat perlu menggunakan berbagai strategi dan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan siswa.

2. Preffered Modality Theory, 
Preffered Modality Theory, mengisyaratkan bahwa para siswa memiliki kecenderungan modalitas belajar yang berbeda. Sebagian siswa memiliki modalitas pemahaman melalui aktivitas mendengar, sebagian yang lain memiliki modalitas pemahaman melalui aktivitas melihat, dan sebagian siswa yang lain cenderung memiliki modalitas pemahaman melalui mendengar dan melihat.

3. Cognitive Flexibility Theory
Cognitive Flexibility Theory, mengisyaratkan bahwa suatu bidang dapat dipelajari dengan lebih mendalam dan lebih efektif bilamana para siswa menggunakan proses belajar dengan cara non linear. Hal ini bermakna bahwa suatu bidang yang dipelajari mencangkup berbagai aspek dan domain yang saling berkaitan.

C. Pendekatan-Pendekatan Pedagogik Dalam E-Learning

Teknologi komunikasi  secara umum dapat dikategorikan sebagai asynchronous dan symchronous. Asynchronous merupakan aktivitas yang menggunakan teknologi dalam bentuk blogs, wikis, dan discussion boards. Sedangkan syncronous menunjukan pada pengkategorian aktivitas pertukaran ide atau informasi yang mengharuskan partisipan menggunakan waktu yang bersamaan.
Melalui situs wikipedia (2008) dikemukakan beberapa pendekatan pedagogik yang diterapkan dalam E-Learning, yaitu:
  1. Instructional design, dimana pembelajaran lebih terfokus pada kurikulum (curricullum focused) yang dikembangkan dengan menitikberatkan pada pendekatan pendidikan kelompok atau guru secara perorangan.
  2. Social construktivist, merupakan pendekatan pedagogik yang pada kebanyakan aktivitasnya dilakukan dalam bentuk forum-forum diskusi, blogs, wiki, dan aktivitas-aktivitas kolaboratif online.
  3. Laurillard’s convesational model, merupakan salah satu bentuk pendekatan pedagogik yang mentikberatkan pada penggunaan bentuk-bentuk diskusi langsung secara luas.
  4. Cognitive perspective,menitikberatkan pula pada proses pengembangan kognitif melalui kegiatan pembelajaran.
  5. Emotional persective, lebih difokuskan pada pengembangan dimensi-dimensi emosional pembelajaran, seperti motivasi, engagement, model-model permainan dan lain-lain.
  6. Behavior perspective, menitikberatkan pada keterampilan dan perilaku yang dihasilkan dari proses belajar. Model pembelajaran dalam bentuk ini misalnya bermain peran (penerapan role playing).
  7. Contextual perspective, difokuskan pada penataan faktor instrumental dan sosial lingkungan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar. Bentuk-bentuk nyata dalam model ini seperti interaksi dengan orang lain, model-model kolaboratif.

D. Piranti-piranti pendukung E-Learning

Sistem teknologi yang tersedia dan dapat dipergunakan didalam E-Learning antara lain:
Ü    Classroom response system
Ü    Collaborative software
Ü    Discussion boards
Ü    E-mail
Ü    Educational management system
Ü    Educational animation
Ü    Electronik performance support system
Ü    Eport folios
Ü    Games
Ü    Hypermedia in general
Ü    Learning management system
Ü    PDA’s
Ü    Podcasts
Ü    MP3 Players with multimedia capabilities
Ü    Multimedia CD-ROMS
Ü    Screencats
Ü    Simulations
Ü    Text chat
Ü    Virtul classrooms
Ü    Web-based teaching materials
Ü    Web sites and web 2.0 communities
Ü    Wiki

E.   Pengembangan Pembelajaran E-Learning

Melalui tulisan tentang manajemen E-Learning, Kamarga (2001:7) memaparkan pemikiran-pemikiran Robinson (2001) bahwa dalam dunia e-commerce dikenal pengembangan jaringan web melalui dua model, yaitu model businis to consumer (B2C) dan model businis (B2B). Model B2C merujuk kepada terjadinya transaksi  antara pengusaha dengan pelanggan sehingga secara aktual pelanggan merupakan pengguna terakhir, sedangkan model B2B melibatkan dua pihak pengusaha yang akan menghasilkan produk akhir dan produk inilah yang kemudian digunakan oleh pelanggan. Jika model dalam e-comerce diterapkan dalam E-Learning, maka aplikasi model-model B2C berkaitan dengan terminologi pengetahuan sebagai komoditas yakni produk situs secara langsung akan digunakan atau diakses oleh konsumen (pembelajar).

Munir (2004 )mengemukakan bahwa terdapat tiga fasilitas belajar atau modul yang bisa digunakan didalam pengambangan bahan ajar berbasis E-Learning yaitu:
  1. Model pengukuhan,yaitu fasilitas untuk mengukuhkan pengajaran guru atau mengukuhkan proses belajar siswa.
  2. Model pengulangan, yaitu fasilitas untuk siswa yang kurang faham atau siswa perlu mengulangi kembali pelajaran.
  3. Modul pengayaan, yaitu fasilitas bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih tinggi sehingga mereka lebih cepat menguasai pelajaran sehingga memerlukan pelajaran tambahan.
  4. Masing-masing modul tersebut terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait, yaitu:
    Komponen-komponen modul pengukuhan:
  1. Induksi yaitu bagian untuk menarik perhatian peserta terhadap topik/ pelajaran yaang akan di pelajari.
  2. Perkembangan adalah bagian yang memuat penjelasan dan contoh-contoh berkaitan dengan pelajaran yang disajikan.
  3. Latihan, memuat latihan-latihan untuk menilai kemampuan belajar siswa.
    Komponen-komponen modul pengulangan:
  1. Penjelasan; memuat penjelasan-penjelasan serta langkah-langkah rinci untuk menjelaskan masalah pembelajaran.
  2. Pencarian; yaitu pendekatan yang memungkinkan peserta didk untuk mengapliksikan konsep/oprasi/formula yang mudah yang telah mereka pelajari dan memberikan jawaban. Bereksperimen berdasarkan parameter tertentu.
  3. Aplikasi; yaitu bagian yang menuntut peserta didik mengaplikasikan konsep/operasi/formula yang mudah yang telah mereka pelajari dan memberikan jawaban.
   Komponen modul pengayaan:
  1. Pencarian; pendekatan pencarian yang lebih menantang yang menuntut peserta didik untuk bereksperimen dengan parameter tertentu dan sistem pemberian umpan balik.
  2. Aplikasi; kegiatan yang menuntut peserta didik untuk mengaplikasikan konsep, operasi, formula yang telah dipelajari dengan memberikan jawaban.

DAFTAR PUSTAKA

  • Dr.Aunurrahman, M.Pd (2009).Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
  • Dimyati dan Mudjiono.(1994). Belajar dan pembelajaran.Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas.
  • Brady, Laurie. (1985). Models and Methods of Teaching. Australia: Pretice-Hall of Australia
  • Depsiknas.(1998/1999). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti
  • http//www.pwcs.edu/curriculum/sol/groupinves.htm.
  • Abdilah,Husni. (2008). Strategi Bimbingan Belajar Bagi Siswa di Sekolah Dasar. Online, tersedia: http//husniabdillah.mulityply.com/journal/item/9/.
  • Arikunto, Suharsimi. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: PT:Bumi Aksara.
  • Kamarga, Hansiswany. (2001). Manajemen E-Learning: Mengelola Pengetahuan sebagai Komoditas. Mimbar Pendidikan, Jurnal Pendidikan, No.3 Tahun XX 2001.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Rangkuman Belajar dan Pembelajaran
Ditulis oleh gio akram
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/06/rangkuman-belajar-dan-pembelajaran.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

2 komentar:

les privat pep mengatakan...

mantab sob artikelnya .. sukses selalu

gio akram mengatakan...

@les privat pep: sama-sama sob...terimaksih juga sudah berkunjung

Posting Komentar