Posted by gio akram Rabu, 22 Mei 2013 0 komentar

STUDI TENTANG KEAKTIFAN BELAJAR SISWA YANG BELAJAR PAGI  HARI DENGAN SISWA YANG BELAJAR SIANG HARI PADA MATA PELAJARAN IPS GEOGRAFI DI SMAN I PUJUT TAHUN PELAJARAN 2008/2009

I. Latar Belakang Masalah

Di dalam kegitan belajar diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental, sebagai suatu wujud reaksi. Pikiran dan otot-ototnya harus dapat bekerja secara harmonis, sehingga subjek belajar itu bertindak atau melakukannya. Belajar harus aktif, tidak sekedar apa adanya, menyerah pada lingkungan, tetapi semua itu harus dipandang sebagai tantangan yang memerlukan reaksi. Jadi orang yang belajar itu harus aktif, bertindak dan melakukannya dengan segala panca indranya secara optimal. Belajar membutuhkan reakasi yang melibatkan ketangkasan mental, kewaspadaan, perhitungan, ketekunan dan kecermatan untuk menangkap fakta-fakta dan ide-ide sebagaimana disampaikan oleh pengajarnya. Jadi kecepatan jiwa seseorang dalam memberikan respon pada suatu pelajar merupakan faktor yang penting dalam belajar (Sardiman, 2001: 40).
Belajar merupakan proses aktif merangkai pengalaman menggunakan masalah-masalah nyata yang terdapat di lingkungannya untuk berlatih keterampilan-keterampilan yang spesifik. Dengan demikian belajar tidaklah bersifat pasif. Proses belajar harus berpusat pada siswa melalui berbagai aktivitas fisik (hands on ) dan aktivitas mental (minds on).
Guna membenahi sistem pembelajaran yang lebih bermakna, maka kegiatan belajar itu sendiri harus dirancang sedemikian rupa, sehingga seluruh siswa menjadi aktif dalam belajarnya, yang dapat merangsang daya cipta, rasa maupun karsa. Cara belajar yang aktif diasumsikan menjadi pangkal kesuksesan belajar (Muhadjir, 2003:137). Bertolak dari asumsi tersebut, maka metode dan teknik belajar mengajar harus ditelaah kemampuannya untuk dapat mengaktifkan siswa sebagai subyek didik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dikutip oleh Utomo dan Ruijter (1994:177) dijelaskan bahwa ”Belajar secara aktif dengan cara-cara yang bervariasi (berlainan) sambil memperhatikan strukturnya akan dimengerti lebih baik dan diingat lebih lama”. Penekanan dari pendapat tersebut adalah cara belajar dengan banyak variasi yang menjadikan siswa aktif dan senang belajar. Oleh karena itu, untuk dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar tersebut, maka guru juga dituntut untuk aktif dalam mengajarnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Muhadjir bahwa :
Wawasan dari cara belajar yang menjadikan siswa aktif merupakan proses belajar sepanjang hayat menekankan pengkonsepsian keseimbangan antara otoritas pendidik dengan kedaulatan subyek didik, dan keseimbangan antara aktivitas belajarnya siswa dengan mengajarnya guru”(Muhadjir, 2003:137).

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, untuk melibatkan siswa secara aktif dalam belajarnya, maka guru juga dituntut untuk aktif dalam mengajarnya, yakni suatu keseimbangan antara keaktifan belajarnya siswa dan keaktifan mengajarnya guru. Oleh karena itu, proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang integral antara siswa sebagai pelajar dan guru sebagai pengajar. Dalam kegiatan ini, terjadi interaksi antara guru dengan siswa dalam siatuasi pembelajaran, dimana proses belajar merupakan suatu aktivitas yang dijalankan oleh peserta didik, sedangkan proses mengajar ialah apa yang diusaha-kan oleh guru agar proses belajar mengajar dapat berlangsung. Dalam usahanya itu, guru harus merencanakan pembelajaran yang mantap, termasuk strategi pembelajarannya.
Kondisi sekolah yang nyaman akan sangat mempengaruhi keaktifan belajar siswa. keaktifan belajar termasuk siswa sekolah pada dasarnya ditentukan setidaknya oleh dua faktor, yaitu faktor internal (diri siswa) dan faktor eksternal  (luar siswa). Faktor internal meliputi kecerdasan, motivasi, dan minat, sedang faktor eksternal menyangkut masalah lingkungan (sekolah dan tempat tinggal), tersedianya sarana dan prasarana belajar, kondisi ekonomi keluarga, dan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukung dan pengelola lembaga. Faktor eksternal khususnya menyangkut kemampuan lembaga pendidikan dalam menyiapkan sarana dan prasarana belajar, suasana belajar yang nyaman, dan sumber daya manusia pengelola yang profesional dan berkualitas, sangat mempengaruhi keaktifan belajar siswa.
Kondisi sekolah dengan segala keterbatasan pasilitas pembelajaran seringkali membuat siswa kurang aktif dalam proses belajar. Misalnya kekurang bangku belajar membuat sebagian siswa terpaksa ada yang masuk pagi hari dan ada yang masuk siang hari. Siswa yang masuk pagi hari lebih diuntungkan karena suasana pagi yang masih segar sangat memungkinkan untuk proses belajar mengajar, akan tetapi siswa yang masuk siang dengan kondisi yang panas membuat siswa sering kali kurang aktif dalam proses belajar.
Bertitik tolak dari uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Studi Tentang Keaktifan Belajar Siswa yang Belajar Pagi  Hari dengan Siswa yang Belajar Siang Hari pada Mata Pelajaran IPS Geografi di SMAN I Pujut Tahun Pelajaran 2008/2009”.

II.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah “apakah ada perbedaan keaktifan belajar siswa yang belajar pagi  hari dengan siswa yang belajar siang hari pada mata pelajaran IPS Geografi di SMAN I Pujut tahun pelajaran 2008/2009?.

III. Tujuan dan Manfaat Penelitian

3.1   Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk  menjelaskan apakah ada perbedaan keaktifan belajar siswa yang belajar pagi  hari dengan siswa yang belajar siang hari pada mata pelajarn IPS Geografi di SMAN I Pujut tahun pelajaran 2008/2009.

3.2  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
  1. Bagi mahasiswa, hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menambah wawasan dan mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan kenyataan yang ada di lapangan. Serta diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai referensi atau bahan bacaan bagi mahasiswa guna memperkaya khasanah pengembangan ilmu pengetahuan
  2. Bagi lembaga (dinas pendidikan), sebagai bahan pertimbangan supaya tidak ada pembelajaran disiang hari.
IV.  Asumsi Penelitian
Asumsi atau anggapan dasar merupakan kerangka awal atau acuan yang akan memandu cara-cara berpikir di dalam suatu penelitian baik usaha untuk melihat kedudukan suatu masalah. Oleh karena itu, asumsi tentang suatu    masalah dapat di nyatakan sebagai suatu keharusan dalam pelaksanaan penelitian, yang dapat membawa pemikiran dalam persepektif keilmuan (teori) yang berkembang. Namun demikian, sebelum mengajukan asumsi  sehubungan dengan hakekat masalah yang dijadikan bahan penelitian ini, maka terlebih dahulu dikemukakan batasan asumsi itu sendiri sebagai tolak ukur untuk melangkah lebih lanjut.
Asumsi dapat diartikan sebagai suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti (Arikunto, 2002). Dengan demikian, sesuatu masalah yang diyakini kebenarannya merupakan suatu asumsi bagi seorang peneliti sebelum dikukuhkan dengan hasil penelitian. Dilain pihak, asumsi juga diartikan sebagai “Hasil abstraksi pemikiran yang oleh peneliti dianggab benar dan dijadikan sebagai pijakan untuk mengkaji satu atau beberapa gejala” (Danim,1997).
Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa asumsi adalah suatu pemikiran yang diyakini oleh peneliti tentang kebenaran suatu fakta sebagai dasar untuk mengkaji suatu gejala. Sementara itu, kebenaran suatu fakta yang ada tidak perlu dibuktikan lagi. Dengan demikian, asumsi merupakan pijakan awal bagi seorang peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan lebih jauh.
Adapun asumsi yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Keaktifan belajar siswa dipengaruhi faktor internal (diri siswa) dan faktor eksternal (luar siswa).
  2. Situasi lingkungan pagi hari sangat mempengaruhi keaktifan siswa dalam belajar.

V.  Hipotesis
Kata hipotesis berasal dari dua rangkaian kata yakni : “hypo” yang berarti di bawah, dan “thesa” yang berarti kebenaran. Dengan demikian, hipotesis ini secara etimologis berarti “di bawah kebenaran”(Arikunto, 2002). Dengan demikian, hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenaran yang dilakukan melalui kegiatan penelitian.
 Sedangkan secara difinitif hipotesis ini dapat diterjemahkan sebagai “Jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan”(Sugiyono, 2006). Jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian ini pada dasarnya adalah kesimpulan yang bersifat sementara dari setiap gejala yang dapat diamati,    sedangkan untuk menjadi dalil yang sesungguhnya, hipotesis perlu pembuktian secara emperis.
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hipotesis merupakan kesimpulan sementara yang kebenarannya mem-butuhkan pembuktian melalui suatu penelitian. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk hipotesis penelitian ada tiga yaitu: hipotesis deskriftif (variabel mandiri), hipotesis komparatif (perbandingan), dan hipotesis asosiatif (hubungan).
Menurut Rianto (2001) menjelaskan bahwa hipotesis dilihat dari kategori rumusannya dibagi menjadi dua bagian yaitu :
  1. hipotesis nihil (null hypotheses) yang biasa disingkat dengan Ho
  2. hipotesis alternatif (alternative hypotheses) yang biasanya disebut hipotesis kerja atau disingkat Ha.
Lebih lanjut Riyanto (2001) menjelaskan sebagai berikut: “dilihat dari sifat variabel yang akan diuji, hipotesis penelitian dibedakan menjadi dua macam, yaitu hipotesis tentang hubungan dan hipotesis tentang perbedaan. Hipotesis tentang hubungan merupakan hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis tentang hubungan ini mengacu pada penelitian korelasi. Sedangkan hipotesis tentang perbedaan merupakan hipotesis yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda. Hipotesis tentang perbedaan ini mendasari berbagai penelitian komparatif dan eksperimen. Hipotesis nihil (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan atau perbedaan antara variabel dengan variabel lainnya. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan ada hubungan atau perbedaan antara variabel dengan variabel lainnya”(Riyanto, 2001).
Berdasarkan batasan tersebut di atas, maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang memakai hipotesis komparatif, yakni ingin mencari apakah ada perbedaan keaktifan belajar siswa yang belajar pagi hari dengan siswa yang belajar siang hari pada mata pelajaran IPS Geografi di SMAN 1 Pujut tahun pelajaran 2008/2009.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini, hipotesis nihil dan hipotesis alternatif dinyatakan sebagai berikut :
  1. Hipotesis Alternatif (Ha): “Ada perbedaan keaktifan belajar siswa yang belajar pagi  hari dengan siswa yang belajar siang hari pada mata pelajarn IPS Geografi di SMAN I Pujut tahun pelajaran 2008/2009 ”
  2. Hipotesis Nihil (Ho): “Tidak ada perbedaan keaktifan belajar siswa yang belajar pagi  hari dengan siswa yang belajar siang hari pada mata pelajarn IPS Geografi di SMAN I Pujut tahun pelajaran 2008/2009”
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis mengajukan hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi : Ada perbedaan perbedaan keaktifan belajar siswa yang belajar pagi  hari dengan siswa yang belajar siang hari pada mata pelajarn IPS Geografi di SMAN I Pujut tahun pelajaran 2008/2009”.


VI. Kajian Pustaka
6.1  Tinjauan Tentang Belajar 
6.1.1  Pengertian Belajar

Belajar merupakan masalah yang selalu aktual dan dihadapi oleh setiap orang. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang perkataan belajar terutama belajar di sekolah, perlu dirumuskan secara jelas berdasarkan pendapat para ahli.
Pertama, menurut Aqip (2003), belajar adalah “proses perubahan di dalam diri manusia”. Pendapat ini memberikan makna yang sangat umum tidak hanya mengenai bidang intelektual, akan tetapi mengenai seluruh pribadi anak. Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali sifat maupun  jenisnya, karena itu, sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Misalnya kaki seseorang anak menjadi bengkok karena terjatuh dari motor, kemudian perubahan tingkah laku seseorang yang berada dalam keadaan mabuk dan sebagainya. Perubahan-perubahan yang terjadi seperti contoh di atas tentu tidak dapat digolongkan ke dalam perubahan dalam arti belajar. Karena aktivitas belajar itu sendiri merupakan aktivitas yang disadari dan mempunyai tujuan, seperti yang diungkapkan oleh Sardiman (2001) bahwa pendidikan dan pembelajaran adalah “suatu proses yang sadar akan tujuan”.
Kedua, menurut pendapat dari ahli psikologi pendidikan Slameto (1995), belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Pendapat ini memberikan penekanan pada usaha dan proses belajar untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang lebih baik.
Ketiga, menurut Purwodarminto (1999) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar berarti “berusaha (berlatih dan sebagainya) supaya mendapat suatu kepandaian”. Penekanan dari pendapat tersebut adalah untuk mendapatkan kepandaian yang dilakukan dengan proses belajar secara terus menerus untuk dapat mengerti suatu hal. Hal ini dipertegas oleh pendapat ahli berikutnya.
Keempat, menurut Fajar (2004), proses belajar merupakan “jalan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mengerti suatu hal yang sebelumnya tidak diketahui atau diketahui tetapi belum menyeluruh tentang suatu hal tersebut”. Ini berarti  bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan, kecakapan, daya piker, sikap, kebiasaan dan lain-lain. Jadi dengan demikian, seseorang yang telah mengalami proses belajar tersebut diharapkan dapat memperoleh kualitas dan kuantitas tingkah laku yang lebih baik. Oleh Muhadjir (2003) ini disebut sebagai “perilaku terpuji atau watak terpuji yakni agar anak menjadi pandai, agar orang menjadi ahli, agar orang berkepribadian luhur, toleran dan sebagainya”. Lebih lanjut Muhadjir mengata-kan bahwa “tujuan baik dengan jalan tidak baik bukanlah aktivitas belajar karena tujuan yang menghalalkan segala cara atau jalan yang tidak baik bukanlah semboyan yang bersemangatkan pendidikan” (Muhadjir, 2003).
Kelima, menurut Winataputra (2005) menyatakan bahwa belajar adalah “proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan”. Seseorang dikatakan belajar bila pikiran dan perasaannya aktif dalam membangun makna dan pemahaman. Pemahaman berarti bahwa seseorang (siswa, mahasiswa) mampu memahami atau mengerti apa yang sedang dikomunikasikan kepadanya dan dapat mempergunakan materi yang dikomunikasikan tadi tanpa perlu menghubungkannya dengan materi lain (Winataputra dan Rosita, 1996). Atau dengan kata lain, pikiran dan perasaan kita harus mampu memahami makna dari apa yang dikomunikasikan. Itulah yang dimaksudkan pikiran dan perasaan aktif.
Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati oleh orang lain kecuali orang yang bersangkutan (orang yang sedang belajar). Tetapi manipestasi dari kegiatan seseorang sebagai akibat dari aktivitas pikiran dan perasaan seseorang yang sedang belajar dapat diamati. Inilah yang sebenarnya yang menjadi inti penekanan dari pendapat ketiga ini. Contoh manipestasi akibat  aktivitas berpikir dan merasakan ini misalnya : siswa bertanya, siswa menjawab pertanyaan, siswa menanggapi, siswa diskusi, siswa memecahkan masalah, siswa mengamati sesuatu, siswa melaporkan hasil pekerjaannya, siswa membuat rangkuman dan sebagainya.
Berdasarkan beberapa pengertian menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku yang lebih baik sebagai akibat dari aktivitas mental dan emosional dalam belajar.

6.1.2  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar yang Efektif
Aktivitas belajar merupakan inti dari kegiatan di sekolah, sebab semua aktivitas belajar dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan proses belajar bagi setiap siswa yang sedang menjalani studi di sekolah tersebut.
Menurut Slameto (1995: 54 – 56) Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.  Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu Faktor-faktor tersebut, baik faktor intern maupun ekstern saling berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dalam mencapai prestasi belajar.
1.    Faktor-Faktor Intern
  1. Faktor Jasmaniah, meliputi: faktor kesehatan dan cacat tubuh
  2. Faktor Psikologis, meliputi: inteligensi, perhatian, minat, Bakat, dan motivasi.
  3. Faktor kelelahan, meliputi: kelelahan fisik/jasmani dan kelelahan batin/rohani.

2.   Faktor-Faktor Ekstern
  1. Faktor Keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, dan latar belakang kebudayaan.
  2. Faktor Sekolah, meliputi: metode mengajar guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin sekolah, dan keadaan gedung.
  3. Faktor Masyarakat, meliputi: kegiatan siswa dalam masyarakat,  media massa, dan teman bergaul.

6.2 Tinjauan Tentang Keaktifan
Keaktifan sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif pelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud pada prilaku-prilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan menganalisis hasil percobaan, membuat karya tulis dan sebagainya. Siswa dituntut selalu aktif mencari, memperoleh dan mengolah perolehan belajarnya. Adapun implikasi dari prinsip ini adalah sebagai berikut:
1.    menggunakan multimedian dan multimetode,
2.    memberikan tugas secara individual dan kelompok,
3.    memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil,
4.    memberikan tugas dan memberikan bahan belajar,
5.    mengadakan tanya jawab dan diskusi.
Anak adalah mahluk yang aktif, mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan  kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri (Riyanto, 2008: 50)
Berdasarkan hasil penelitian yang dikutip oleh Utomo dan Ruijter (1994:177) dijelaskan bahwa ”Belajar secara aktif dengan cara-cara yang bervariasi (berlainan) sambil memperhatikan strukturnya akan dimengerti lebih baik dan diingat lebih lama”. Penekanan dari pendapat tersebut adalah cara belajar dengan banyak variasi yang menjadikan siswa aktif dan senang belajar. Oleh karena itu, untuk dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar tersebut, maka guru juga dituntut untuk aktif dalam mengajarnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Muhadjir bahwa Wawasan dari cara belajar yang menjadikan siswa aktif merupakan proses belajar sepanjang hayat menekankan pengkonsepsian keseimbangan antara otoritas pendidik dengan kedaulatan subyek didik, dan keseimbangan antara aktivitas belajarnya siswa dengan mengajarnya guru”(Muhadjir, 2003:137).


VII. Metode Penelitian
7.1  Metode yang Digunakan

Metode yang dipergunakan untuk memecahkan masalah ini adalah metode penelitian deskriftif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriftif itu sendiri merupakan penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu” (Riyanto, 2001 : 23).  Sedangkan rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui (Margono, 2003  : 105 – 106)

7.2  Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan SMAN I Pujut. dengan letak geografis sebagai berikut:
1. Sebelah Utara    : Persawahan
2. Sebelah Barat    : SMK Kelautan
3. Sebelah Timur    : Pemukiman penduduk
4. Sebelah Selatan    : Pemukiman Penduduk

7.3  Penentuan Subjek Penelitian
7.3.1  Populasi

Populasi merupakan “Wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2000). Dengan perkataan lain, populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama. Pendapat lain dalam buku statistika bahwa “Populasi mengandung arti totalitas dari semua nilai hasil mengukur atau menghitung baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan obyek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya” (Sudjana, 2002). Sedangkan menurut Arikunto (2002), populasi merupakan “Keseluruhan subyek penelitian”.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa populasi  merupakan semua subyek, obyek, individu atau peristiwa yang lengkap, jelas dan diamati serta memenuhi syarat-syarat tertentu dalam suatu penelitian.
Dengan demikian, populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 1 Pujut kelas 1b sebanyak 39 orang dan kelas 2a sebanyak 37 orang, sehingga jumlah anggota  populasinya sebanyak 76 orang.
Penelitian ini diarahkan menjadi penelitian populasi. Hal ini sejalan dengan pendapat seorang ahli bahwa “Untuk sekedar ancar-ancar, apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian ini dianggap penelitian populasi. Sebaliknya, jika subyeknya besar, maka dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih tergantung dari kemampuan peneliti” (Arikunto, 2002).
Dengan demikian, mengingat jumlah populasi yang relatif kecil, maka akhirnya penelitian ini merupakan penelitian populasi, dan tidak perlu adanya penjelasan mengenai sampel.

7.4  Metode Pengumpulan Data.

Pengumpulan data merupakan suatu proses pengadaan data untuk keperluan penelitian. data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (Rinduwan, 2003: 31). Data utama yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data yang menggambarkan tentang tutor sebaya dan prestasi belajar siswa yang bersifat kuantitatif dalam wujud angka-angka.
Untuk memperoleh data seperti yang dimaksud, maka teknik atau metode yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode koesioner, interview dan dokumentasi, sebagai berikut:
  1. Kuisioner: digunakan untuk mengumpulkan data tentang perbedaan keaktifan belajar siswa antara siswa yang belajar pagi dengan siswa yang belajar siang hari.
  2. Interview: digunakan untuk mengkonfirmasikan data hasil pengumpulan data dari koesioner atau memperoleh tambahan data yang belum terjaring melalui penyebaran kuisioner.
  3. Dokumentasi: digunakan dalam pengambilan data pada kuisioner dan interview yang akan ditampilkan berupa gambar/poto sebagai data pendukung.

7.5  Jenis dan Sumber Data
7.5.1  Jenis Data

Mengetahui jenis data adalah hal yang mutlak dalam penelitian. Data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Menurut Sugiyono (2000: 14), “Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan (skoring)”. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah jenis data kuantitatif.
Menurut Arikunto (2002: 90) jenis data kuantitatif dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 

  1. data nominal adalah suatu himpunan yang terdiri dari anggota-anggotanya yang mempunyai kesamaan anggota dan memiliki perbedaan dari anggota himpunan lainnya,
  2. data ordinal adalah data yang merupakan tingkat-tingkat seperti panjang, kurang panjang, dan pendek,
  3. data interval adalah data yang mempunyai jarak antara individu yang satu dengan individu yang lain,
  4. data ratio adalah data perbandingan.
Dari pendapat tersebut, jenis data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah data ratio, sehingga data yang dikumpulkan adalah hasil skor kuisioner keaktifan belajar siswa antara siswa yang belajar pagi dan siswa yang belajar siang.

7.5.2  Sumber Data

Menurut Surakhmad (1998: 134) sumber data menurut sifatnya digolong-kan menjadi 2 yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber primer adalah sumber-sumber yang memberikan data langsung dari tangan pertama. Sedangkan Sumber sekunder adalah sumber mengutip dari sumber lain.
Jika disimak dari keterangan tersebut di atas, maka sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang diperoleh dari siswa menjawab kuisioner dan interview sebagai responden.

7.6  Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel

7.6.1  Identifikasi Operasional Variabel

Agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran tentang variabel-variabel penelitian, maka perlu ditetapkan variabel-variabel penelitian. Dalam penelitian ini ada dua jenis variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. dan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2000). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah siswa yang belajar pagi dan siswa yang belajar siang, dan variabel terikatnya adalah keaktifan belajar.

7.6.2 Difinisi Operasional Variabel

  1. Keaktifan adalah sikap aktif yang selalu mencari, memperoleh, dan mengolah informasi yang dibutuhkan.
  2. Belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
7.7  Teknik Analisis Data
    Untuk dapat menarik kesimpulan dari data yang diperoleh, maka teknik analisis yang diterapkan adalah metode statistika dengan rumus Uji t (t-test) yang dipergunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel, yakni sebagai berikut:

DAFTAR PUSTAKA

Aqip, Zaenal, 2003. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendikia.

Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan : Bumi Aksara.

Danim, Sudarwan,  1997. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung : Pustaka Setia.

DePoter, Bobbi, dkk, 2002. Quantum Teaching Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung : Kaifa.

Dirawat, 1993. Sistem Pembinaan Profesional dan Cara Belajar Siswa Aktif. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Djamarah, Syaiful Bahri, 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Fajar, Arnie, 2004. Portopolio Dalam Pembelajaran IPS. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Hamalik, Oemar, 2001. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Hasan, Chalijah, 1994. Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al-Ikhlas.

Madikianto, T., 1993. Penyuluhan Pembangunan. Surakarta: UNS Press.

Margono, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhadjir, Noeng, 2003. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial. Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.

Mustakim dan Wahid, Abdul, 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Naskawati, Anggraini, 2002. Hubungan Status Kepegawaian guru, Kemampuan Mengajar, dan Disiplin Kerja Guru Dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat. Tesis. Universitas Negeri Malang.

Porwodarminto, S, 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Porwodarminto, S, 1993. Disiplin Kiat Menuju Sukses. Bandung: Prayadnya Paramita.

Rindjin, Ketut. 1999. Strategi Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Menuju Masyarakat Madani. Disampaikan dalam Seminar dan Sarasehan Nasional Forum Komunikasi IX Pimpinan FPIPS-IKIP dan JPIPS-FKIP/STKIP se- Indonesia Tanggal 19 – 21 September 1999.

Riduwan, 2003. Dasar-Dasar Statistika.  Bandung : Alfabeta.

Riyanto, Yatim, 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya :  SIC.

Sardiman, A.M, 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Silberman, Melvin, L., 2004. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung : Nuansa.

Slameto, 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.

Sudjana, 2002. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Sudjana, Nana, 2002. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algansindo.

Sudjana, Nana, 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, Nana, 1992. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sudjana, S, 2005. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung : Falah Production.

Sugiyono, 2000. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta.

Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : CV. Alfabeta.

Suharto, Karti, 2003. Teknologi Pembelajaran. Surabaya : SIC Surabaya.
Suprapti, Wahyu, dan Pranoto, Juni, 2001. Membangun Kerjasama Tim (Team Building). Surabaya : SIC Surabaya.

Surachmad, Winarno, 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.
Utomo, Tjipto, dan Ruijter, Kees, 1994. Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Winataputra dan Rosita, 1996. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Depag RI

Winataputra, Udin, S., 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penelitian Universitas Terbuka.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: STUDI TENTANG KEAKTIFAN BELAJAR SISWA
Ditulis oleh gio akram
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/05/studi-tentang-keaktifan-belajar-siswa.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar