Posted by gio akram Senin, 13 Mei 2013 0 komentar
Secara etimologi (asal-usul kata), paradigma, dari rumpun bahasa Yunani, berasal dari kata para dan deigma yang berarti kaca mata, cakrawala, atau horizon Karena itu, dari segi asal kata, pengertian paradigma adalah kaca mata pandang terhadap situasi, kenyataan, atau peristiwa Paradigma berhubungan dengan cara ilmu pengetahuan memandang masalah yang muncul didalam kenyataan itu sendiri. (Layla Sugandhi,1999: 13). Sebagai sebuah konsep, paradigma menjadi istilah yang pertama kali digunakan oleh seorang filsuf alam juga ahli fisika yang bernama Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution (1962). Buku ini telahditerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Rosda Karya Bandung,dengan judul yang sama.Dalam buku itu, konsep paradigma digunakan untuk menunjukan pola pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Pada dasarnya lewat bukunya iitu, Thomas Kuhn hendak membuktikan sesat anggapan lama yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan manusia berkembang secara linear, akumulatif dan gradual.
Bagi Kuhn, anggapan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara linear dan gradual sesungguhnya tidak tepat. Sebaliknya, bagi Kuhn, ilmu pengetahuan manusia berkembang secara revolusioner yang ditandai dengan pembongkaran atau penjungkirbalikkan pada struktur paradigma itu sendiri. Dengan perkataan lain, keberadaan paradigma yang menjadi penggerak dari pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Dalam prosesnya, pergantian suatu paradigma ke paradigma yang baru seringkali terjadi dengan cara-cara yang revolusioner. Cara-cara yang revolusioner adalah cara dimana suatu paradigma yang telah mapan sebagai cara pandang dalam ilmu pengetahuan manusia di ganti secara mendasar dengan paradigma baru, sehingga paradigma yang lama secara perlahan kehilangan relevansi, baik secara intelektual maupun sosial.

Paradigma Sosiologi

Paradigma sosiologi ini sangat mirip dengan konsep exlemplar dari Kuhn. Dalam edisi pertama bukunya Kuhn mendiskusikan keanekaragaman fenomena yang dapat tercakup kedalam pengertian seperti : kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hukum yang diterima, hasil-hasil nyata perkembangan ilmu pengetahuan serta hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum. Nampaknya menurut Kuhn hasil-hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum inilah yang memperoleh kedudukan sebagai exlemplar. Sebagaimana karya Durkheim dan Weber, dua perintis sosiologi modern, yang telah
mendapat pengakuan dan diterima oleh komunitas ilmuwan. Keduanya memperoleh predikat jembatan paradigm

Jenis-jenis paradigma dalam ilmu sosiologi.

Sebagaimana telah disinggung diatas, didalam ilmu sosiologi tumbuh dan berkembang lebih dari satu jenis paradigma. Berikut ini akan digambarkan pembagian paradigma sosiologi, atau ilmu sosial itu sendiri, oleh George Ritzer yang lazim digunakan dalam perkuliahan di Indonesia. Tentu saja bukan hanya Ritzer seorang yang membuat kategorisasi paradigma sosiologi. Banyak sosiolog yang juga melakukan hal yang sama, diantaranya William Perdue (1984), Burnell dan Morgan (1994), dan Mansour Faqih (2001). Ritzer, seorang sosiolog berkebangsaan Amerika,juga terkenal dengan tesisnya tentang gejala masyarakat dunia yang makin mengalami rasionalisasi dalam wujud penerapan prinsip-prinsip restoran fast-food dalam penataan masyarakat. Tesis itu dikenal dengan (macdonaldisasi masyarakat (mcdonaldization of society). Karya mutakhirnya yang baru diterbitkan berjudul (Globalization of Nothing (2006)) dimana mengulas mengenai fenomena kehampaan global yang sedang menyebar keseluruh penjuru bumi manusia. Dengan perkataan lain adalah meluasnya keterasingan multidimensional, baik berupa keterasingan sosial, keterasingan ekonomi, serta keterasingan kultural yang diakibatkan oleh perkembangan-perkembangan sistem ekonomi kapitalisme global. Ritzer membagi paradigma dalam ilmu sosiologi sebagai berikut ini :

Paradigma Fakta Sosial

Fakta sosial merupakan terminologi yang digunakan oleh Emile Durkheim, seorang perintis sosiologi modern berkebangsaan Perancis. Fakta sosial diartikan Durkheim sebagai ‘cara berfikir, bertindak dan merasa yang berada diluar kesadaran manusia yang bersifat memaksa’. Fakta sosial muncul dalam bentuk nilai-nilai kultural, institusi sosial, sistem ekonomi juga politik. (Doyle Jhonson,1997 : 23). Dengan bersifat eksternal dan memaksa, maka fakta social merupakan sesuatu yang bekerja secara obyektif. Artinya fakta sosial ada dan berada di luar kehendak manusia itu sendiri. Sebagaimana diulas oleh Peter Berger, keberadaan fakta sosial ini menunjukkan sisi obyektivasi dari kenyataan sosial. (Peter Berger, 1993). Konsepsi Durkheim mengenai fakta sosial merupakan terobosan intelektual yang sangat radikal dizamannya. Hal ini terutama dikarenakan status sosiologi yang berada di antara pengaruh ilmu psikologi dan filsafat sosial. Di jaman itu sosiologi dipandang belum memiliki status sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki bidang penyelidikan (obyek masalah/subject matters) sebagai salah satu ukuran agar memperoleh status itu. Lewat karyanya yang berjudul ‘The Rule Of Sosiological Method’, Durkheim mengembangkan penggunaan ilmu statistik sebagai salah satu instrumen metodologi dalam ilmu sosial, khususnya sosiologi. Dalam karyanya tentang bunuh diri (Suicide), teknik statistik sosial itu coba diterapkan. Dengan perkataan lain, Durkheim adalah peletak dasar dari perkembangan awal paradigma fakta sosial. Dalam rumpun paradigma fakta sosial, obyek masalah utama yang sering diselidiki adalah struktur sosial dan proses sosial. Struktur sosial adalah pola hubungan sosial (relasi dan interaksi) yang terbentuk di antara individu dengan individu, individu dengan institusi maupun institusi dengan institusi. Sementara proses sosial adalah sisi dinamika dari bekerjanya struktur sosial. Teori-teori utama yang terkenal dari paradigma fakta sosial antara lain adalah teori struktural-fungsional, teori konflik sosial serta teori sistem.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: PARADIGMA
Ditulis oleh gio akram
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/05/paradigma.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar