Posted by gio akram Rabu, 29 Mei 2013 2 komentar

1. Pengertian Evaluasi Proyek 

Pengertian Evaluasi Proyek  Evaluasi Proyek, juga dikenal sebagai studi kelayakan proyek (atau studi kelayakan bisnis  pada proyek bisnis), merupakan pengkajian suatu usulan proyek (atau bisnis), apakah dapat dilaksanakan (go project) atau tidak (no go project), dengan berdasarkan berbagai aspek kajian. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah suatu proyek dapat dilaksanakan dengan berhasil, sehingga dapat menghindari keterlanjuran investasi modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan.  Dilihat dari kapan evaluasi dilakukan pada proyek, dapat dibedakan 4 jenis evaluasi proyek:
  1. Evaluasi terhadap usulan proyek yang akan didirikan (pre-project evaluation);
  2. Evaluasi terhadap proyek yang sedang dibangun (on-construction project evaluation);
  3. Evaluasi terhadap proyek  yang telah dioperasionalisasikan (on-going project evaluation).
  4. Evaluasi terhadap proyek yang telah berakhir (post-project evalution study).

2. Hal-Hal yang Perlu Diketahui dalam Evaluasi Proyek

Sebelum dilakukan suatu evaluasi proyek, perlu diidentifikasikan hal-hal berikut:
  • Ruang Lingkup Kegiatan Proyek, yakni pada bidang-bidang apa saja proyek akan beroperasi (mission statement of business).
  • Cara kegiatan proyek dilakukan, yakni apakah proyek akan ditangani sendiri, atau ditangani juga oleh (beberapa) pihak lain?
  • Evaluasi terhadap aspek-aspek yang menentukan keberhasilan seluruh proyek, yakni mengidentifikasi faktor-faktor kunci keberhasilan proyek.
  • Sarana yang diperlukan oleh proyek, menyangkut bukan hanya kebutuhan seperti: material, tenaga kerja, dan sebagainya, tetapi juga fasilitas-fasilitas pendukung seperti jalan raya, transportasi, dan sebagainya.
  • Hasil kegiatan proyek tersebut serta biaya-biaya yang harus ditanggung untuk memperoleh hasil tersebut.
  • Akibat-akibat yang bermanfaat ataupun yang tidak dari adanya proyek tersebut.
  • Langkah-langkah rencana untuk mendirikan proyek, beserta jadwal masing-masing kegiatan tersebut. 

3. Perbedaan Intensitas Evaluasi Proyek

Tidak setiap proyek akan diteliti dengan intensitas yang sama. Beberapa proyek mungkin harus diteliti dengan sangat mendalam,  dengan mencakup berbagai aspek yang berpengaruh. Beberapa lainnya mungkin cukup diteliti pada beberapa aspek saja. Bahkan ada yang diteliti secara sederhana dan tidak formal. 
Beberapa faktor menentukan intensitas studi evaluasi proyek:
  1. Besarnya dana yang ditanamkan: semakin besar dana yang ditanamkan, intensitas studi akan semakin mendalam.
  2. Tingkat ketidakpastian proyek: semakin sulit memperkirakan penghasilan penjualan, biaya, aliran kas, dan lain-lain, maka biasanya studi evaluasi proyek akan semakin hatihati.
  3. Kompleksitas elemen-elemen  yang mempengaruhi proyek: semakin kompleks faktorfaktor yang mempengaruhi proyek, semakin hati-hati dan mendalam studi evaluasi proyek tersebut.

4. Lembaga-Lembaga yang Membutuhkan Evaluasi Proyek:

Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa kegagalan proyek dapat merugikan: investor, pihak penyedia pembiayaan, pemerintah. Oleh karena itu, mereka lah lembagalembaga yang membutuhkan evaluasi proyek.
  • Pemilik proyek (investor) dan calon mitra usaha: akan memperhatikan prospek usaha, yakni tingkat keuntungan yang diharapkan beserta tingkat  risiko investasi. Biasanya, semakin tinggi tingkat keuntungan diiringi dengan semakin tinggi risiko proyek.
  • Pihak penyedia pembiayaan (bank kreditur, perusahaan leasing, perusahaan modal ventura, underwriter bila melalui bursa efek, lembaga kredit ekspor barang modal, dan lembaga donor yang mungkin ikut membiayai proyek): memperhatikan segi keamanan dana yang mereka pinjamkan, karena mereka mengharapkan agar bunga dan angsuran pokok pinjaman dapat dibayarkan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, mereka akan memperhatikan pola aliran dana selama jangka waktu pinjaman tersebut. 
  • Pemerintah: berkepentingan atas manfaat atau dampak dari proyek terhadap perekonomian nasional maupun dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat.

5. Dua Jenis Evaluasi Kelayakan

Untuk meminimalkan biaya dan efektifitas kegiatan, evaluasi kelayakan proyek dilakukan dalam dua tahap:
  • Evaluasi Pendahuluan (Preliminary study atau Pre-evaluation study) Tujuan Evaluasi Pendahuluan adalah untuk mengetahui faktor-faktor pengambat kritis (critical factors) yang dapat menghambat  jalannya operasi bisnis proyek yang akan dibangun. Kemungkinan keputusan dari tahap ini adalah pembatalan rencana investasi, revisi rencana investasi, atau meneruskan  evaluasi rencana investasi proyek ke tahap berikutnya, yakni studi kelayakan proyek. 
  • Evaluasi Kelayakan Proyek (Project Feasibility Study) Fokus utama studi kelayakan proyek paling  sedikit terpusat pada empat aspek: (1) aspek pasar dan pemasaran terhadap barang atau jasa yang akan dihasilkan proyek; (2) aspek produksi, teknis dan teknologis; (3) aspek manajemen dan sumberdaya manusia; dan (4) aspek keuangan dan ekonomi.

6. Tahapan-Tahapan Evaluasi Proyek

Evaluasi Proyek dapat dibagi menjadi beberapa tahap:  • Tahap Penemuan ide, yakni penelitian terhadap kebutuhan pasar dan jenis produk dari proyek. Jika terdapat lebih dari satu ide, maka biasanya pengambil keputusan akan dipengaruhi oleh tiga faktor: (1) intuisi bisnis dari pengambil keputusan; (2) pengambil keputusan memahami teknis dari proyek; (3) keyakinan bahwa proyek mampu menghasilkan laba. 
  • Tahapan Penelitian; yakni meneliti beberapa alternatif proyek dengan berbagai metode ilmiah. Dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah data berdasarkan metode yang relevan, menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan data dengan alat-alat analisis yang sesuai; menyimpulkan hasil sampai pada pekerjaan membuat laporan hasil penelitian. 
  • •    Tahap Evaluasi  (Evaluasi Pendahuluan dan Evaluasi Kelayakan Proyek). Evaluasi berarti membandingkan sesuatu berdasarkan  satu atau lebih standar atau kriteria, dimana standar atau kriteria ini dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Hal yang diperbandingkan dalam evaluasi kelayakan proyek biasanya adalah manfaat (benefit) dengan seluruh biaya yang akan timbul.
  • Tahap Pengurutan Usulan yang Layak. Apabila terdapat lebih dari satu usulan rencana proyek yang dianggap layak, dan bila manajemen memiliki keterbatasan dalam menjalankan proyek-proyek tersebut, maka  manajemen dapat menentukan prioritas usulan yang layak berdasarkan  kriteria-kriteria pengurutan (ranking) yang telah ditentukan.
  • Tahap Rencana Pelaksanaan. Setelah ditentukan rencana proyek mana yang akan dijalankan, perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan (konstruksi) proyek; mulai dari penentuan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan; jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana; ketersediaan dana dan sumberdaya lainnya; kesiapan manajemen, dll.
  • Tahapan Pelaksanaan, yakni tahap merealisasikan konstruksi proyek tersebut. Jika proyek selesai dikonstruksi, maka proyek dioperasionalisasikan. Dalam operasionalisasi ini, diperlukan juga kajian-kajian untuk mengevaluasi operasionalisasi proyek.  Hasil evaluasi ini dapat dijadikan sebagai feedback bagi perusahaan untuk selalu mengkaji ualng proyek secara terus-menerus. 

7. Desain Studi Kelayakan Dan Aspek-aspek Evaluasi Proyek

Evaluasi Proyek mengkaji kelayakan proyek dari berbagai komponen proyek: pasar,  internal perusahaan, dan lingkungan.  No Komponen Aspek yang dikaji 1 Pasar Pasar konsumen dan pasar produsen (persaingan) 2 Internal Perusahaan Pemasaran; Teknik dan Teknologi; Manajemen; Sumberdaya Manusia; Keuangan. 3 Lingkungan Politik, Ekonomi, Sosial; Lingkungan Industrial; Yuridis (Legal); Lingkungan Hidup. Suatu aspek mungkin terkait dengan aspek lainnya dalam Evaluasi Proyek. Misalnya:
  • Aspek pemasaran membutuhkan data-data dan asumsi dari aspek pasar dan persaingan, serta aspek-aspek lingkungan;
  • Aspek manajemen akan membutuhkan data-data dan asumsi dari seluruh internal perusahaan dan seluruh aspek lingkungan.
  • Aspek sumberdaya manusia membutuhkan data-data dan asumsi dari aspek teknik dan teknologi, pasar dan pemasaran, dan manajemen untuk menentukan jumlah dan spesifikasi tenaga kerja dan program pengembangannya.
  • Aspek keuangan akan membutuhkan data-data dan asumsi dari aspek pasar, pemasaran, manajemen, teknik dan teknologi untuk menentukan besar pendapatan dan biaya yang harus ditanggung badan usaha. Modifikasi terhadap aspek-aspek studi kelayakan adalah dimungkinkan, disebabkan oleh batasan-batasan dalam penelitiannya, seperti:
  • Apakah rencana bisnis hanya terbatas  pada suatu produk baru atau pada rencana pembentukan SBU atau yang lainnya.
  • Apakah pasar yang dituju berskala internasional, nasional, atau lokal.
  • Apakah produk yang akan dihasilkan berupa barang atau jasa atau gabungan keduanya.
  • Apakah analisis akan dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif atau gabungan keduanya.

Sumber:

  • www.indokripsi.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Ruang Lingkup Manajemen Evaluasi Proyek & Kelayakan Bisnis
Ditulis oleh gio akram
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/05/ruang-lingkup-manajemen-evaluasi-proyek.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

2 komentar:

Irene R mengatakan...

Mantapppppp....
Bisa lebih spesifik lg nggak yg jenis2 evaluasi proyek?

Nda ada penjelasan singkat,,, klo tugas kan biasa soalx sebutkan dan jelaskan... yg ini berarti baru di sebutkan yah?

gio akram mengatakan...

Ya betul itu kan cuma ruang lingkupnya saja...
coba kunjungi halaman Ini
Semoga membantu

Posting Komentar