Posted by gio akram Sabtu, 18 Mei 2013 0 komentar
A.  Proses Dasar Penelitian Tindakan
Orang-orang dalam situasi tertentu mendeskripsikan kepeduliannya, menjajagi apa yang dipikirkan oleh orang lain, dan berusaha mencari apa yang mesti dilakukan untuk mengubah situasi tersebut agar menjadi lebih baik. Kelompok terkait mengidentifikasi kepedulian tematik yang menentukan bidang subtansi yang akan menjadi fokus strategi peningkatannya. Para anggota kelompok menyusun rencana tindakan bersama-lama, bertindak dan mengamati secara individual dan bersama-sama dan melakukan refleksi bersama-sama pula. Kemudian mereka secara sadar merumuskan kembah rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan lebih kritis. Itulah empat aspek pokok dalam penelitian tindakan (Kemmis dkk., 1982; Burns, 1999), yang selanjutnya diuraikan di bawah ini.
1.  Fase Perencanaan (Planning)
Pada siklus pertama, perencanaan tindakan (planning) dikembangkan berdasarkan hasil observasi awal. Dari masalah yang ada dan cara pemecahannya yang telah ditetapkan, dibuat perencanaan kegiatan belajar mengajarnya (KBM). Perencanaan ini persis dengan KBM yang dibuat oleh guru sehari-hari, termasuk penyiapan media, dan alat-alat pemantauan perkembangan pengajaran seperti lembar observasi, tes, catatan harian, dan lain-lain.

2.  Fase Pelaksanaan (Action)
Fase ini adalah pelaksanaan KBM yang telah direncanakan. Bersamaan dengan ini dilakukan juga fase observasi/pemantauan.

3.  Fase Observasi/pemantauan (Observation)
Dalam fase observasi, dilakukan beberapa kegiatan seperti pengumpulan data-data yang diperlukan. Untuk mendapat data ini, diperlukan instrumen dan prosedur pengumpulan data (dibahas oleh pemakalah lain). Dalam fase ini juga dilakukan analisis terhadap data, dan interpretasinya. Fase ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan (action), dan pada akhir tindakan. Data yang diambil selama pelaksanaan tindakan misalnya observasi perilaku siswa. Pada akhit tindakan dapat dilakukan tes maupun wawancara.

4.  Fase Refleksi (Reflection)
Menurut Zuber-Skerritt, fase ini terdiri atas refleksi kritis dan refleksi diri. Refleksi kritis adalah pemahaman secara mendalam atas temuan siklus tersebut, dan refleksi diri adalah mengkaji kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama siklus berlangsung. Dengan demikian, fase ini berisi kegiatan pemaknaan hasil analisis, pembahasan, penyimpulan, dan identifikasi tindak lanjut. Hasil identifikasi tindak lanjut selanjutnya menjadi dasar dalam menyusun fase perencanaan (planning) siklus

B.   jenis-jenis Penelitian Tindakan

Terdapat empat jenis Penelitian Tindakan
  1. Jenis Diagnostik maksudnya penelitian dilakukan untuk menuntun peneliti ke arah suatu tindakan karena suatu masalah yang terjadi, misalnya adanya konflik antar siswa di kelas, adanya pertengkaran di antara siswa dan sejenisnya.
  2. Jenis Partisipan maksudnya penelitian dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dari awal sampai akhir proses.
  3. Jenis Empirik maksudnya penelitian dilakukan dengan cara merencanakan, mencatat pelaksanaan dan mengevaluasi pelaksanaan dari luar arena kelas, jadi dalam penelitian jenis ini peneliti harus berkolaborasi dengan guru yang melaksanakan tindakan di kelas.
  4. Jenis Eksperimental maksudnya penelitian dilakukan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik, metode atau strategi dalam pembelajaran secara efektif dan efisien.

C.  Persoalan-persoalan Praktis
1.  Pemrakarsa Peneliti Tindakan
Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu ituasi, misalnya situasi belajar-mengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. Ada dua kelompok orang yang dapat dalarn usaha kolaborasi penelitian tindakan: (1) kelompok yang, langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait, dan (2) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melakankannya.
2.  Pemilik Penelitian Tindakan
Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator, misalnya seorang konsultan, sebaiknya orang-orang yang, langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tersebut dibuat merasa ikut memilikinya. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tersebut. Rasa ikut memiliki ini dapat diikembangkan dengan melibatkan mereka dalam scluruh proses penelitian, yaitu dari langkah pertama sampai Langkah terakhir. Dengan demikian, semua orang yang terkena dampak, penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tersebut., merupakan bagian dari dirinya.
3.  Sasaran Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematik sering timbul karena ada masalah yang perlu ditangani lewat tindakan praktis . jadi tindakan penelitian tindakan tidak cocok untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata.
4.  Data Penelitian Tindakan
Data dalam penelitian tindakan berfungsi sebagai landasan refleksi. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkan peneliti untuk merekonstruksi tindakan terkait, bukan hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu, pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat untuk membukukan amatan dan oleh karena itu menjembatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan.
Data penelitian tindakan diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. Data tersebut berupa semua catatan tentang hasil amatan, transkrip wawancara, rekaman audio dan/ atau video peristiwa/kejadian, yang dikumpulkan lewat berbagai teknik seperti disebutkan di bawah. Maka data penelitian tindakan dapat berbentuk catatan lapangan, catatan harian, transkrip komentar peserta penelitian, rekaman audio, rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya.
5.  Analisis Data
Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan otentikk yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subjektif, dan oleh karena itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta yang lainnya untuk dapat melihat datanya lewat perspektif yang berbeda dengan kata lain, usaha triangulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain.

D.  Teknik-teknik Pemantauan dalam Penelitian Tindakan
Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkannya. Teknik-teknik yang dimaksud disajikan berikut ini.
1.  Catatan Anekdot
Catatan anekdot adalah riwayat tertulis, deskriptif, longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam kelas Anda dalam suatu jangka waktu. Deskripsi akurat ditekankan untuk meenghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu.

2.  Catatan Lapangan
Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot, tetapi mencakup kesan danpenafsiran subjektif. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik, perilaku kurang perhatian, pertengkaran picik, kecerobohan, yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. Seperti halnya catatan anekdot, perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik.

3.  Deskripsi Perilaku Ekologis
Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai, misalnya dalam situasi belajar-mengajar:
•   Kelas dalam suasana serius, tetapi tawa meledak
•   Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukkan dan katakan”
•  Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggung seorang siswa
Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis, seperti telah disinggung di atas. Misalnya, ketika seorang siswa diamati tertawa terbahak-bahak, peneliti tidak boleh memberi komentar tentang maksud tertawa siswa tersebut. Atau ketika beberapa siswa menolak mengerjakan tugas, peneliti tidak boleh menafsirkan bahwa penolakan tersebut karena malas atau alasan lain. Kecenderungan untuk memberikan penilaian seperti ini banyak dialami oleh peneliti pemula. Mereka belum terlatih untuk menunda penilaian sampai refleksi dilakukan.

4.  Analisis Dokumen
Gambaran tentang persoalan, sekolah atau bagian sekolah, kantor atau bagian kantor, dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat, memo untuk staf, edaran untuk orangtua atau karyawan, memo guru atau pejabat, papan pengumuman guru, papan pengumuman siswa, pekerjaan siswa yang dipamerkan, garis besar, tes formal dan informal, publikasi siswa atau karyawan, kebijaksanaan, dan/atau peraturan. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan.

5.  Catatan Harian
Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. Catatan harian mungki memuat observasi, perasaan, reaksi, penafsiran, refleksi, dugaan, hipotesis, dan penjelasan. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individual sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tentang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif. Catatan harian dapat digunakan untuk salah satu atau beberapa tujuan berikut:
  • merekam secara teratur informasi faktual tentang peristiwa, tanggal dan orang, dengan klasifikasi judul, misalnya Kapan? Di mana? Siapa? Yang mana? Bagamana? Mengapa? Data yang direkam dapat membantu peneliti merekonstruksi urutan waktu atau peristiwa sebagaimana terjadi.
  • Aide mémoire untuk merekam catatan pendek tentang penelitian yang sedang dilakukan untuk refleksi kemudian.
  • Memotret secara rinci peristiwa dan situasi tertentu yang memberikan data deskriptif lengkap yang akan digunakan untuk laporan lengkap tertulis.
  • Catatan introspektif dan evaluatif-diri di mana peneliti mencatat pengalaman, pemikiran, dan perasaan pribadi dalam rangka memahami penelitiannya.
6.  Logs
Teknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu, pengelompokan kelas, dan sebagainya. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain.

7.  Kartu Cuplikan Butir
Teknik ini mirip dengan catatan harian tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan tentang sejumlah topik, satu untuk satu kartu. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topik-topik seperti pendahuluan pelajaran, disiplin, kualitas pekerjaan siswa, efisiensi penilaian, kontak individual dengan siswa, dan perilaku seorang siswa. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya, dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat atau menimbulkan kebosanan dengan aspek tertentu.

8.  Portfolio
Teknik ini digunakan untuk membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Portfolio mungkin memuat hal-hal seperti tambatan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti, korespondensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subyek penelitian, kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai, dan/atau tambatan rapat staf yang relevan; singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat.

9.  Angket
Angket terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Pertanyaan ada dua macam.
  1. Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahap-tahap eksplorasi, tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah.
  2. Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi yang paling dekat dengan pendapat, perasan, penilaian, atau posisi mereka. Pertanyaan harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). Mengujicobakan pertanyaan dengan teman atau cuplikan (sample) kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh.

10.  Wawancara
Teknik ini memungkinkan meningkatnya fleksibilitas dari pada angket, dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. Wawancara dapat:
  1. Tak terencana: misalnya, omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subyek penelitian.
  2. Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara, tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas.
  3. Terstruktur: Pewancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaan.

11.  Metode Sosiometrik
Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah individu-individu disukai atau saling menyukai. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subyek tertentu ingin bekerja sama, atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subyek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan.

12.  Jadwal dan daftar tilik (checklist) interaksi
Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. Teknik- teknik ini boleh berdasarkan waktu, atau berdasarkan peristiwa, yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. Misalnya dalam situasi sekolah, kategori jadual dan daftar tilik (checklist) dapat menunjuk pada:
  • Perilaku verbal guru: misalnya bertanya, menjelaskan, mendisiplinkan (individu atau kelompok), memberi contoh melafalkan kata/frasa/kalimat
  • Perilaku verbal siswa: misalnya, menjawab, bertanya, menyela, berkelakar, mengungkapkan diri, menyanggah, menyetujui.
  • Perilaku nonverbal guru: misalnya, tersenyum, mengerutkan kening, memberi isyarat, menulis, berdiri dekat siswa pandai, duduk dengan siswa lamban.
  • Perilaku nonverbal siswa: misalnya menoleh, mondar-mandir, menulis, menggambar, menulis cepat, tertawa, menangis, mengerutkan dahi, mengatupkan bibir.

13.  Rekaman pita
Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran, rapat diskusi, seminar, lokakarya, dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) pada analisis yang cermat. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mana perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. Jika transkripsi ekstensif diperlukan, prosesnya mungkin menjadi sangat panjang dari segi waktu.

14.  Rekaman video
Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/peristiwa untuk dianalisis kemudian, misalnya kegiatan pembelajaran di kelas. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada asisten yang membantu, lebih banyak perhatian dapat diberikan pada reaksi dan perilaku subyek secara perorangan (guru dan siswa), yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. Subyek-subyek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian.

15.  Foto dan slide
Foto dan slide mungkin berguna untuk merekam peristiwa penting, misalnya aspek kegiatan kelas, atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. Karena daya tariknya bagi subyek penelitian, foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data.

16.  Penampilan subyek penelitian pada kegiatan penilaian
Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi, penguasaan, untuk mendiagnosis kelemahan dsb. Alat penilaian tersebut dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja disesuaikan dengan jenis data yang akan dikumpulkan. Pemilihan teknik pengumpulan data hendaknya dipilih sesuai dengan cirri khas data yang perlu dikumpulkan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian. Untuk keperluan trianggulasi, data yang sama dapat dikumpulkan dengan teknik yang berbeda.

E.  Prinsip-prinsip Etis Proses Penelitian Tindakan

Peneliti tindakan, sebagai praktisi, melakukan penelitian untuk mencapai peningkatan dirinya clan peningkatan situasi bersama orang-orang di dalamnya. Dengan kata lain, peneliti tindakan melakukan penelitian untuk mempengaruhi orang lain menuju peningkatan/perbaikan yang diinginkan. Dalam hal ini hendaknya dia melakukan perubahan tersebut dengan cara yang etis. Di bawah akan disajikan uraian singkat tentang prinsip-prinsip etis yang perlu diterapkan dalam melakukan penehdan tindakan (McNiff, Lomax dan Whitehead, 2003, seperti diuraikan di bawah.
1.  Kelengkapan Dokumen
Peneliti tindakan hendaknya membagikan dokumen etika ke semua peserta penelitian. Dokumen etika tersebut mencakup pernyataan etis dan surat ijin. Ketika melaporkan hasil penelitian, kedua dokumen ini perlu dilampirkan tetapi semua nama orang dan nama organtsas] harus ditutup (disembunyikan). Pada surat ijin, harus juga ditutup nama, alamat dan tanda tangan yang ada.
a.  Pernyataan Etika
Pernyataan etika adalah pernyataan pribadi tentang bagaimana penelitian tindakan akan dilaksanakan dan bila dliperlukan pernyataan tersebut mencakup butir-butir yang disebut di bawali. Pernyataan etika perlu dibuat sebelum penelitian dimulai dan, seperti telah disebut di atas, perlu dibagikan kepada semua pescri:i penelitian. Berikut ini contoh dua pernyataan etika.
b.  Surat Ijin
Surat permohonan ljin perlu dibuat dan diajukan ke pimpinan lembaga tempat penelitian dilakukan dan kepada orang tua anak-anak yang akan dilibatkan dalarn penelitian. Seperti disinggung di atas, surat ijin ini perlu diperbanyak untuk dibagikan kepada semua pihak terkait. Peneliti perlu menyimpan kopiannya. Dalam  permohonan ijin perlu disebutkan hal-hal penting yang akan dilakukan dan kapan data akan di musnakan. Surat permohonan ijin perlu dilengkapi dengan format pemberian ijin untuk mempermudah pihak terkait dalam memberikan ijin.

2.  Negosiasi Akses
a.  Dengan yang Berwenang
Peneliti tindakan hendaknya menghubungi kepala sekolah dan manajer sebelum melakukan penelitian yang terkait dengan organisasi atau lembaga mereka. Peneliti hendaknya juga memperoleh persetujuan tertulis tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleti dilakukan. Jika ada perubahan rencana atau hal lain, peneliti hendaknya memberitahukan perubahan ini kepada kepala sekolah atau manajer dan minta ijin untuk meneruskan penelitian dengan perubahan tersebut.

b.  Dengan Peserta
Peneliti tindakan hendaknya minta ijin kepada orang¬-orang yang diharapkan akan terlibat dalam penelitiannya. Mereka hendaknya secara terns menerus diberi informasi, tentang penelitian tersebut. Mereka hendaknya diyakinkan bahwa mereka adalah peserta penelitian dan peneliti-pendamping, bukan sekedar 'subick garapan'. Peneliti hendaknya meyakinkan bahwa dia meneliti dirinya sendiri dalarn kaitannya dengan mereka. Hal ini hendaknya dijelaskan sesering mungkin bila diperlukan untuk membuat mereka merasa enak dengan apa pun yang dikerjakan peneliti. Karma mereka ini incrupakan sumber daya yang berharga, mereka perlu diperlakukan dengan hati-hati.

c.  Dengan Orangtua atau Wali Murid
Bila peneliti tindakan melibatkan siswa, dia hendaknya minta ijin kepada orangtua mereka. Surat permohonan Ijin sebaiknya dikirim ke rumah mereka. Apabila orangtua rnengalami kesulitan membaca, peneliti sebaiknya memberi penjelasan lisan. Peneliti hendaknya berupaya agar orang-orang terkait mendukungnya dari permulaan dan hendaknya kepercayaan mereka dijaga dengan balk.

3.  Menjaga Kerahasiaan
a.  Kerahasiaan Informasi
Peneliti hendaknya menyatakan dengan tegas bahwa dia hanya akan menggunakan informasi yang termasuk wilayah publik dan yang sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. Peneliti juga hare, menegaskan bahwa informasi yang bersifat pribadi tidak akan dilaporkan. Jika ada informasi yang sensitif yang akan digunakan, peneliti hendaknya minta ijin kepada sumber informasi tersebut.

b.  Kerahasiaan Identitas
Peneliti tindakan hendaknya tidak menyebut nama orang atau tempat kecuali telah mendapatkan ijin untuk menyebutnya dalam laporan. Peneliti juga tidak boleh menyebut nama fiktif karma nama tersebut mungkin sama dengan nama milik orang lain. Untuk identitas peserta, sebaiknya peneliti menggunakan inisial, nomor atau simbol lain. Jika memperoleh ijin tertulis dari organisasi atall lembaga terkait, peneliti boleh menyebut nama organisasi atau
lembaga tersebut.

c.  Kerahasiaan Data
Jika peneliti bermaksud menggunakan data asli seperti transkip, atau saripati dari rekaman video, hendaknya dia mengecek pada pemiliknya untuk keberterimaannya dan hendaknya dia minta Ijill kepada mereka. Peneliti hendaknya selalu minta sumber data untuk mengecek keakuratan informasi dan menyunting transkrip unwk mengecek kontribusi mereka. Peneliti hendaknya juga minta lain untuk membaca versi deskripsinya tentang peristiwa-peristwa yang diteliti sebelum diterbitkan.

d.  Menjamin Hak Peserta untuk Mengundurkan Diri dari Penelitian
Dari waktu ke waktu peneliti tindakan hendaknya memastikan bahwa peserta penelitian merasa enak dengan prosedur penelitian clan bebas bersikap dalam penelitian terkait. Mereka perlu cliberitahu bahwa hak-haknya dilinclung, dan bahwa mereka bisa mengundurkan diri jika menghendaki, dan semua data tentang mereka akan dimusnahkan setelah pengunduran diri mereka.

e.  Menjaga Kode Etik profesional dan Akademik
Pengumpulan data dan pembuatan laporan penelitian tindakan hendaknya dilakukan dengan memenuhi persyaratan akademik dan profesional. Perekaman perkuliahan atau kegiatan kelornpok hendaknya dilakukan dengan ijin. Ketika mewawancari orang, peneliti tindakan hendaknya menjelaskan bagaimana data akan cligunakan dan dia akan menepati komitmen ini.• Ketika mernbuat laporan, peneliti tindakan hendaknya mengakui kontribusi intelektual orang lain dan tidak menggunakan perkataan orang lain tanpa pengakuan. peneliti tindakan hendaknya selalu ingat bahwa meneliti adalah pekerjaan profesional yang menuntut komitmen kerja keras dan tanggung jawab pribadi.

f.  Jaga Kepercayaan
Dari awal peneliti tindakan hendaknya meyakinkan orang-orang, yang terlibat dalam penelitiannya bahwa dia dapat dipercaya, dan akan menepati janji tentang negosiasi, kerahasiaan clan pelaporan Dia hendaknya selalu melakukan pengecekan bilamana raga-raga atau ada kesalahpahaman. Selain itu, dia hendaknya melinclung] orang lain clan juga dirinya.

Daftar Pustaka

    http://trigoesema.wordpress.com/2009/12/19/penelitian-tindakan-kelas-jenis-jenis-ptk/
    http://ilmumetodepenelitian.blogspot.com/
    Suwarsih Madya, Ph.D. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (action Research)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Desain Dan Prosedur Penelitian Tindakan
Ditulis oleh gio akram
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/05/desain-dan-prosedur-penelitian-tindakan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar