Sabtu, 06 April 2013
4
komentar
A. INFLASI
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah
suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu)
berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara
lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran
distribusi barang.[rujukan?] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses
menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu
peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang
dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika
proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang
paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi
tiga golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi
ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun;
inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan
hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada
di atas 100% setahun.
1.
Penyebab
Inflasi dapat disebabkan oleh dua
hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi.[rujukan?]
Inflasi tarikan permintaan (Ingg:
demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan
sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap
barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor
produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian
menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena
suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan
dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya (Ingg: cost
push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga
mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik.
Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu
kenaikan harga,misalnya bahan baku
dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan
usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
2.
Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan
inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri
misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai
dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan
makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi
yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi
akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif
impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan
besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi
hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut
inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada
semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka
(Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga
setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat
menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi
yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
·
Inflasi
ringan (kurang dari 10% / tahun)
·
Inflasi
sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
·
Inflasi
berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
·
Hiperinflasi
(lebih dari 100% / tahun)
3.
Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung
perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga
tersebut di antaranya: Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI),
adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli
oleh konsumen. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI). Indeks
harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang
yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan
untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku
meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga
barang-barang konsumsi. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur
harga dari komoditas-komoditas tertentu. Indeks harga barang-barang modal Deflator
PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang
produksi lokal, barang jadi, dan jasa.
4.
Dampak
Pekerja dengan gaji tetap sangat
dirugikan dengan adanya Inflasi.Inflasi memiliki dampak positif dan dampak
negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan,
justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian
lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah
untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa
inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali
(hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan
lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan
investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima
pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh
juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka
menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki
pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan
pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun
kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang
pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya,
orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya
pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan
pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan
untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan
menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap
saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit
berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank
yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang kepada
bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada
kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya,
kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai
uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat
menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan
biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk
melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun,
bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan
produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa
menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup
mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya
terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat
mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku
bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan
pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran,
dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
5.
Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan
inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat
inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki
kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh
diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini
disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang
independen salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan
menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian akan mendorong
tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau
tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu,
bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang
domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat
internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini
pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia,
termasuk oleh Bank Indonesia.
B.
STAGFLASI
Stagflasi adalah suatu kondisi suatu perekonomian mengalami
inflasi dan stagnasi dalam waktu yang bersamaan. Stagflasi, dalam makroekonomi, adalah periode ketika
inflasi dan konstraksi (yaitu, menurunnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya
pengangguran, yang sering terjadi di masa resesi) terjadi secara bersamaan.
Istilah stagflasi pertama kali disebutkan oleh United Kingdom Chancellor of the
Exchequer Iain MacLeod dalam pidatonya di hadapan parlemen pada tahun 1965.
"Stag" berasal dari suku kata pertama "Stagnasi", yang
merujuk pada menurunnya kondisi ekonomi, sementara "flasi" berasal
dari suku kata kedua dan ketiga "inflasi", yang merujuk pada naiknya
harga barang-barang secara umum dan terjadi secara terus menerus.
Stagflasi Ekses Harga BBM
KENAIKAN harga BBM 1 Oktober 2005 makin menambah beban berat
rakyat kecil dan berpenghasilan tetap, yang belum berkurang sejak kenaikan 1
Maret 2005. Kenaikan harga barang dan jasa pada triwulan I tahun 2005 meningkat
lebih besar dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu, bahkan dibandingkan
semester sebelumnya. Kenaikan tertinggi pada kelompok transpor, komunikasi dan
jasa keuangan sebesar 10,21%, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan
tembakau (3,46%), kelompok perumahan 2,52% dan kelompok bahan makanan 1,21%.
Keempat kelompok tersebut merupakan kelompok yang mengalami
dampak terbesar dari kenaikan harga BBM. Tingkat inflasi pada triwulan 1-2005
mencapai 3,05%, atau terjadi perbedaan 2,04% dibanding triwulan yang sama pada
tahun 2004 ( Tabel 1). Kenaikan ini seperti sebuah bejana berhubungan karena
akan berpengaruh secara langsung terhadap daya beli masyarakat. Pada Tabel 2
disajikan persentase biaya BBM dari pengeluaran menurut sektor.
Di situ terlihat pengeluaran BBM pada rumah tangga mencapai
2,5% dari pengeluaran total mereka. Artinya, daya beli masyarakat otomatis akan
melemah dengan naiknya harga BBM, belum lagi diperparah dengan ke-naikan
harga-harga barang lainnya yang proses produksi dan distribusinya sangat
terkait dengan BBM. Daya beli tentunya berkaitan langsung dengan kesejahteraan,
asumsinya jika daya beli menurun berarti tingkat pendapatan riil menurun dan
pada gilirannya potensi keluarga untuk menjadi lebih miskin menjadi lebih
besar. Kenaikan harga BBM kali ini akan meningkatkan harga barang-barang lebih
tajam dibanding yang lalu. Hal ini terjadi karena kenaikan harga BBM lebih
tinggi, ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian nasional makin melemah dan
nilai tukar rupiah yang melemah.
Inflasi kadang-kadang berarti juga penerimaan yang lebih
tinggi dari pemilik sumber daya. Jika dipandang dari sisi penerimaan, pada
tingkatan tertentu inflasi tidak buruk. Tetapi apa pun alasannya, inflasi yang
tinggi jauh di atas pertumbuhan ekonominya tetap mengundang kepedihan dan
kekecewaan bagi rakyat. Presiden Ford dan Carter tidak dipilih kembali untuk
jabatan kedua karena keduanya tidak dapat mengendalikan in-flasi. Di era
Presiden Reagan, inflasi me-nurun tajam sehingga ia kembali dipilih untuk masa
jabatan kedua.
Dalam pemilihan presiden tahun 1988, George Bush menang
antara lain karena mengingatkan pemilih akan keberhasilan Partai Republik
menekan inflasi pada tahun 1980. Peningkatan harga BBM kali ini merupakan
pukulan yang amat berat bagi pelaku usaha. Mereka yang terbiasa dengan harga
BBM murah, kini dihadapkan pada satu kondisi yang memaksanya harus memikul
ongkos BBM yang lebih tinggi. Reaksinya, harga barang akan dinaikkan untuk
menekan biaya operasional yang terus membubung, dengan risiko tidak semua
barang laku terjual atau bisa saja dengan mengurangi out put. Inilah yang
menyebabkan terjadi stagflasi yaitu kombinasi inflasi tinggi dan penurunan
produksi barang. Menurut perhitungan Bank Indonesia, inflasi tahun ini
diperkirakan melampaui angka 9%. Berdasarkan data hingga Agustus 2005, inflasi
sudah mendekati angka 8,5%, sehingga saya menduga tingkat inflasi tahun ini
berkisar antara 10,5-12%.
Pertumbuhan
ekonomi yang diperkirakan 5,6-6,2% mungkin tidak akan tercapai sehingga secara
riil sebenarnya ekonomi kita tidak beranjak baik. Kondisi ini berbahaya dan
tidak tertutup kemungkinan peristiwa 1998 akibat inflasi tinggi yang
menyebabkan penurunan daya beli masyarakat mungkin akan terulang, sedangkan
penurunan penawaran agregat atau produksi barang jelas akan menambah jumlah
tenaga kerja yang di PHK. Stagflasi juga berarti terjadinya inflasi yang tidak
terantisipasi sangat besar.
Sudah beberapa kali pemerintah membuat statemen tentang
asumsi besaran inflasi dalam penyusunan APBN, namun jarang sekali secara riil
mendekati realisasinya. Inflasi tak terantisipasi membuat banyak masalah,
mengakibatkan redistribusi pendapatan dan kekayaan dari satu kelompok ke
kelompok lain sehingga mengurangi kemampuan untuk membuat rencana jangka
panjang dan memaksa mereka yang bertransaksi lebih memperhatikan harga-harga.
Semakin sulit inflasi diramalkan dan semakin berfluktuasi, semakin sulit juga
melakukan negosiasi jangka panjang. Keseluruhan produktivitas akan turun karena
waktu lebih banyak dihabiskan untuk penyesuaian dengan ketidakpastian sehingga mengurangi
waktu yang tersedia untuk produksi dan konsumsi.
1.
Antisipasi
Ada dua langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk
mengurangi kesakitan rakyat Indonesia, terutama golongan berpendapatan rendah
dan tetap, yaitu berupaya secara terus - menerus menurunkan tingkat inflasi
hingga setinggi-tingginya sama dengan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan
cadangan devisa pada tingkat yang mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat
internasional terhadap pasar keuangan nasional sehingga stabilitas nilai tukar
relatif terjaga.
Ke depan, siapa pun presidennya, dengan sistem nilai tukar
rupiah yang mengambang mengikuti irama pasar, maka masalah perekonomian
nasional akan selalu berawal dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Perubahan nilai tukar rupiah akan selalu menjadi sumber ketidakpastian ekonomi
di masa datang dan ini merupakan konsekuensi dari sistem ekonomi terbuka yang
dianut Indonesia.
Dibandingkan Korea Selatan dan negara-negara Asia Tenggara
lainnya, kecuali Singapura, Indonesia tergolong sangat liberal dalam transaksi
keuangan cross border baik dalam valuta asing maupun rupiah. Hal ini
dicerminkan oleh capital control index sebesar 0,35 terpaut hanya 0,05 dari
Singapura yang nilainya 0,30. Sedangkan Korea Selatan, Malaysia, Thailand dan
Filipina dengan nilai indeksnya berturut-turut adalah 0,77; 0,61; 0,60 dan
0,45. Makin besar nilai indeks, berarti pembatasan arus modalnya lebih ketat
(Kurniati, 2000). Pengawasan modal dihindari karena dikhawatirkan akan
mengurangi kepercayaan investor dan menghambat aliran modal masuk ke Indonesia
dan perkembangan serta pendalaman pasar keuangan domestik. Terlebih Indonesia
sangat tergantung pada aliran modal luar negeri dimana hingga tahun 1997,
Indonesia merupakan net importir modal untuk memenuhi saving investment gap
yang besar.
Kontrol modal tidak mungkin dilakukan hanya sekadar untuk
menjaga stabilitas nilai tukar, karena untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang
tinggi Indonesia masih memerlukan penanaman modal asing langsung. Untuk
mengatasi tingkat inflasi dan jumlah pengangguran yang makin tinggi, pemerintah
dalam jangka pendek ini harus berhati-hati dalam menerapkan kebijakannya.
Kebijakan fiskal yang sifatnya ekspansif, untuk mendorong tingkat .output
swasta guna mengurangi pengangguran, justru mungkin akan menimbulkan inflasi
yang lebih hebat karena peningkatan yang pesat dari jumlah uang beredar tidak
diimbangi dengan peningkatan penawaran agregat yang memadai.
Pemberian bantuan dana Rp. 100 ribu per keluarga miskin
berpotensi inflasioner jika pihak swasta tidak meresponnya dengan baik. Oleh
karenanya, untuk masa sekarang mungkin pemerintah sebaiknya mendorong
terjadinya peningkatan out put dengan cara melakukan pemotongan tarif pajak.
Pengurangan pajak, akan meningkatkan penghasilan swasta setelah pajak sehingga
sektor swasta dapat kembali merekrut tenaga kerja dan sumber daya lain dalam
jumlah yang lebih banyak.
Disamping cara tadi, agar perekonomian terhindar dari ancaman
stagflasi, maka Pemerintah dan Bank Indonesia hendaknya memelihara kredibilitas
dari setiap kebijakan yang sudah dibuat. Pengumuman yang disampaikan kepada
masyarakat harus dapat dipercaya dan mempunyai kredibilitas yang tinggi.
Masyarakat harus diyakinkan apa yang dilakukan oleh otoritas moneter dan fiskal
benar-benar akan diterapkan sepenuhnya. Jika dalam perjalanannya, ternyata
menyimpang maka pejabat yang bersangkutan harus berani mengundurkan diri.
Mungkin ketika mengundurkan diri sebagai ekspresi tanggung jawab terhadap
sebuah kegagalan telah menjadi budaya, ekspektasi masyarakat domestik dan
internasional terhadap perekonomian Indonesia dipastikan akan lebih positip.
Mudah-mudahan kita tidak seperti menunggu Godot.(11)
C.
DEFLASI
Dalam ekonomi, deflasi adalah suatu
periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah.[1]
Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya
jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya
jumlah uang yang beredar. Salah satu cara menanggulangi deflasi adalah dengan
menurunkan tingkat suku bunga. Dalam keuangan modern, deflasi didefinisikan
sebagai meningkatnya permintaan terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang
berada di masyarakat. Teori Jumlah Peredaran Uang (Quantity Theory of Money)
didapatkan dari persamaan Fisher sebagai berikut:
MV = PT
Ket :
M : Money Supply atau
Persediaan Uang di masyarakat
V : Velocity atau
kecepatan perputaran uang.
P : Average Price
Level atau tingkat harga rata-rata.
T : Total Number of
transactions atau Jumlah Transaksi.
1.
Penyebab
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada
empat buah penyebab Deflasi :
1. Menurunnya persediaan uang di
masyarakat.
2. Meningkatnya Persediaan Barang
3. Menurunnya permintaan akan barang.
4. Naiknya permintaan akan uang
2.
Dampak
Deflasi dapat menyebabkan menurunnya
persediaan uang di masyarakat dan akan menyebabkan depresi besar (seperti yang
dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat pasar Investasi (Saham) akan
mengalami kekacauan.
Dikarenakan harga barang mengalami
penurunan, konsumen memiliki kemampuan untuk menunda belanja mereka lebih lama
lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas
ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi (deflationary
spiral).
Dampak susulan dari melesunya
kegiatan ekonomi adalah banyak pekerja yang akhirnya mengalami PHK karena
pemiliki bisnis tidak sanggup membayar gaji karyawannya (lha barang tidak laku,
mau bayar dari mana?). Dengan demikian pendapatan yang diterima masyarakat
menjadi sedikit dan jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin berkurang.
Dari sisi investasi, deflasi juga
mengakibatkan melesunya investasi di sektor riil maupun di lantai bursa.
Akibatnya ini akan menambah berat kelesuan ekonomi dikarenakan tidak ada lagi
aktivitas bisnis yang berjalan.
Deflasi juga dapat menyebabkan suku
bunga disuatu negara menjadi nol persen. Lalu diikuti juga dengan turunnya suku
bunga pinjaman di bank. Ini memang merupakan langkah paliatif untuk mencegah
masyarakat menyimpan uangnya di bank yang dapat membuat peredaran uang semakin
kecil.
3.
Penanggulangan
Deflasi
dapat diibaratkan jatuh sakitnya seseorang karena jarang berolah raga. Apabila
seseorang pada dasarnya memiliki kaki normal namun malas menggunakannya, maka
ini akan mengakibatkan menyusutnya otot-otot kaki yang jarang digunakan
tersebut. Dalam jangka waktu lebih lama orang tersebut akan tidak dapat
berjalan sama sekali berhubung otot sudah terlalu lemah untuk digunakan.
Apabila keadaan ini justru didiamkan, bukan tidak mungkin akan mengalami
kelumpuhan selamanya.
Hal ini parallel dengan deflasi. Cara
terbaik untuk mengatasinya adalah dengan melatih kembali otot-otot yang sudah
lama tidak digunakan. Meski memakan waktu lama, hal ini adalah satu-satunya
cara untuk mengembalikan kekuatan otot yang melemah. Dengan kata lain untuk
mencegah deflasi menjadi krisis ekonomi besar, pemerintah dan semua pihak yang
terkait harus bersepakat untuk memulai kembali kegiatan ekonomi yang sempat
terhenti karena salah urus tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang
tidak sedikir. Lazim dikatakan oleh para analis eknonomi bahwa deflasi
merupakan kondisi krisis moneter yang sebenarnya tidak memiliki obat yang
efektif. Apabila pada inflasi Bank Sentral dapat menaikkan suku bunga untuk
menahannya, menurunkan suku bunga bahkan hingga nol persen bukanlah jalan
keluar bagi deflasi. Pasalnya ini akan membuat pemasukan pemerintah menjadi nol
juga atau bahkan negative. Belum lagi hal ini akan memicu aksi spekulan luar
negeri yang dapat menjalankan Carry Trade sehingga nilai uang justru menjadi
jatuh. Akibatnya, biaya impor menjadi terbebani sementara ekspor tidak
menunjukkan kenaikan signifikan berhubung melemahnya mata uang disebabkan oleh
aksi spekulan semata-mata.
Cara yang paling lazim digunakan
adalah memberikan stimulus ekonomi berupa bantuan likuiditas ke sektor bisnis.
Dengan demikian diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar. Pemerintah juga
dapat memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk menggairahkan
perekonomian. Dari sisi Bank Sentral, pemerintah juga dapat meningkatkan
peredaran uang di masyarakat dengan membeli surat hutang sektor swasta dan
menukarkannya dengan uang tunai. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan
memotong suku bunga. Namun seperti dijelaskan di atas, memotong suku bunga
bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya tetapi hanya sekedar pengobatan
sementara untuk menggairahkan ekonomi dan mengharapkan harga bergerak naik
dengan sendirinya.
4.
Mencermati Deflasi Januari
2009
Februari 17
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa bulan Januari
ini terjadi deflasi lagi sebesar 0,07% seperti halnya bulan Desember 2008 yang
mengalami deflasi sebesar 0,04%. Penurunan harga BBM khususnya premium dan
solar yang diikuti penurunan tarif angkutan umum mampu menekan tingkat inflasi
pada Januari.
Menurut BPS
terdapat hal pokok yang mendorong terjadinya deflasi adalah dampak langsung
penurunan premium dan solar yang diikuti oleh intervensi pemerintah untuk
menurunkan tarif angkutan, serta adanya penurunan sejumlah harga dan indeks di
kelompok perumahan, air, listrik, dan gas. Penurunan harga BBM bersubsidi
diharapkan akan mampu menimbulkan second round effect atau efek lanjutan pada
perekonomian, termasuk turunnya tarif angkutan barang sehingga bisa dijadikan
faktor pendorong penuruan harga.
a.
Deflasi Sebenarnya?
Tapi kita perlu mencermati lebih jauh, benarkah akan terjadi
deflasi dalam arti yang sebenarnya? Atau deflasi yang terjadi sebenarnya
menujukkan turunnya daya beli masyarakat pascakenaikan harga-harga kebutuhan
pokok yang terus datang secara beruntun sejak pertengahan tahun lalu dan
maraknya PHK pasca pelemahan ekonomi global? Deflasi memang bisa terjadi akibat
meningkatnya pengangguran sehingga menurunkan demand terhadap produk barang dan
jasa (deflationary gap).
Pemahaman yang akurat mengenai penyebab deflasi Januari 2009
ini akan sangat membantu pemerintah dalam mengelola tingkat inflasi tahun ini
agar sesuai pada level yang diharapkan. Pada level yang manageable, inflasi
menunjukkan adanya geliat pertumbuhan ekonomi sedangkan deflasi yang
terus-menerus menunjukkan adanya resesi. Dengan memahami faktor yang
mempengaruhi deflasi ini, pemerintah bisa menentukan fokus kebijakan ekonomi ke
depan.
Deflasi terjadi pada bulan Januari disebabkan turunnya harga
komoditas yang diatur pemerintah (administered price) yang diikuti penurunan akan
permintaan barang. Hal ini perlu diwaspadai karena mengindikasikan adanya
kelesuan pasar yang kemudian bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah masih mengharapkan terjadinya second round effect
pada bulan Februari ini. Tetapi hal itu bisa saja tak terjadi. Kondisi ini
tercermin dari kenyataan bahwa setelah harga BBM turun pengusaha angkutan tak
ingin menurunkan tarif secara substansial dengan alasan BBM hanya salah satu
bagian dari struktur tarif disamping harga suku cadang dan biaya perawatan. Hal
seperti inil bisa mengurangi tekanan penurunan harga, sehingga efek lanjutan
yang diharapkan tak akan bisa maksimal didapat.
Belum lagi faktor alam yang saat ini kurang bersahabat bisa
menyebabkan gangguan pada suplai bahan pangan, misalnya beberapa sentra
produksi beras yang terancam banjir dan seperti disadari BPS sendiri, cuaca
buruk serta gelombang tinggi dapat mengganggu suplai hasil laut. Cuaca buruk
ini juga bisa membuat distribusi barang ke daerah-daerah menjadi terganggu.
Seperti terlihat dari data BPS, bahan makanan tetap mencatat inflasi meski
telah terjadi penurunan harga BBM hingga tiga kali.
Sistem
Distribusi
Dari gambaran di atas terlihat bahwa dalam struktur ekonomi
Indonesia selama ini, terdapat dua komponen utama yang sangat mempengaruhi
tingkat inflasi, yakni kelompok makanan dan transportasi.
Pemerintah
memiliki peran besar dalam mepengaruhi tingkat harga di dua kelompok itu.
Terdapat beberapa cara bagi pemerintah untuk bisa mengendalikan tingkat inflasi
di dua kelompok utama tersebut. Pertama dengan melakukan subsidi atas komoditas
makanan dan BBM. Tapi langkah ini tak lagi bisa diambil terkait sustainability
anggaran belanja yang kini memiliki defisit yang sangat besar.
Satu-satunya jalan tersisa adalah dengan peningkatan efisiensi
perekonomian. Kita sadar ini pasti butuh waktu yang sangat panjang, mengingat
distorsi terhadap mekanisme perekonomian kita yang terlanjur parah. Berbagai
paket kebijakan untuk melakukan reformasi birokrasi dan penciptaan iklim
kondusif bagi dunia usaha sampai saat ini tak pernah diketahui kelanjutannya.
Tapi dalam jangka pendek tetap ada yang bisa dilakukan.
Penghematan yang berhasil dilakukan dengan turunnya harga minyak sebaiknya
disalurkan ke sektor-sektor yang bisa memancing pertumbuhan dan penyediaan
lapangan kerja. Pemerintah baru saja merevisi stimulus fiskal yang diajukan
awal bulan ini dimana salah satu poin utama revisi itu adalah alokasi stimulus
fiskal ke sektor infrastruktur. Kita sangat berharap kebijakan ini bisa segera
dijalankan sehingga mampu menjadi faktor yang bisa memperbaiki sistem
distribusi barang dan jasa. Bukan sekedar paket pemanis menjelang pemilu.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pengertian Inflasi
Ditulis oleh Bagio
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/04/pengertian-inflasi.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Bagio
Rating Blog 5 dari 5
4 komentar:
tes
terima kasih
Sama-sama..! smga membantu
Harusnya ancaman inflasi sekarang bisa kita minimalisir ya dengan berinvestasi.. tentunya ya profitnya harus lebih besar ketimbang inflasinya hehe.. btw thank you artikel inflasinya sgt membantu
investasi yang aman dari inflasi
Posting Komentar