Posted by gio akram Jumat, 05 April 2013 3 komentar
perekonomian indonesia

A.     INFLASI

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang.[rujukan?] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
1.      Penyebab
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi.[rujukan?]
Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu
kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
 
2.      Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
·         Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
·         Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
·         Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
·         Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

3.      Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya: Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI). Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu. Indeks harga barang-barang modal Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

4.      Dampak
Pekerja dengan gaji tetap sangat dirugikan dengan adanya Inflasi.Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
5.      Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.

Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

B.      STAGFLASI

Stagflasi adalah suatu kondisi suatu perekonomian mengalami inflasi dan stagnasi dalam waktu yang bersamaan. Stagflasi, dalam makroekonomi, adalah periode ketika inflasi dan konstraksi (yaitu, menurunnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pengangguran, yang sering terjadi di masa resesi) terjadi secara bersamaan. Istilah stagflasi pertama kali disebutkan oleh United Kingdom Chancellor of the Exchequer Iain MacLeod dalam pidatonya di hadapan parlemen pada tahun 1965. "Stag" berasal dari suku kata pertama "Stagnasi", yang merujuk pada menurunnya kondisi ekonomi, sementara "flasi" berasal dari suku kata kedua dan ketiga "inflasi", yang merujuk pada naiknya harga barang-barang secara umum dan terjadi secara terus menerus.
 
Stagflasi Ekses Harga BBM

KENAIKAN harga BBM 1 Oktober 2005 makin menambah beban berat rakyat kecil dan berpenghasilan tetap, yang belum berkurang sejak kenaikan 1 Maret 2005. Kenaikan harga barang dan jasa pada triwulan I tahun 2005 meningkat lebih besar dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu, bahkan dibandingkan semester sebelumnya. Kenaikan tertinggi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 10,21%, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (3,46%), kelompok perumahan 2,52% dan kelompok bahan makanan 1,21%.
Keempat kelompok tersebut merupakan kelompok yang mengalami dampak terbesar dari kenaikan harga BBM. Tingkat inflasi pada triwulan 1-2005 mencapai 3,05%, atau terjadi perbedaan 2,04% dibanding triwulan yang sama pada tahun 2004 ( Tabel 1). Kenaikan ini seperti sebuah bejana berhubungan karena akan berpengaruh secara langsung terhadap daya beli masyarakat. Pada Tabel 2 disajikan persentase biaya BBM dari pengeluaran menurut sektor.

Di situ terlihat pengeluaran BBM pada rumah tangga mencapai 2,5% dari pengeluaran total mereka. Artinya, daya beli masyarakat otomatis akan melemah dengan naiknya harga BBM, belum lagi diperparah dengan ke-naikan harga-harga barang lainnya yang proses produksi dan distribusinya sangat terkait dengan BBM. Daya beli tentunya berkaitan langsung dengan kesejahteraan, asumsinya jika daya beli menurun berarti tingkat pendapatan riil menurun dan pada gilirannya potensi keluarga untuk menjadi lebih miskin menjadi lebih besar. Kenaikan harga BBM kali ini akan meningkatkan harga barang-barang lebih tajam dibanding yang lalu. Hal ini terjadi karena kenaikan harga BBM lebih tinggi, ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian nasional makin melemah dan nilai tukar rupiah yang melemah.

Inflasi kadang-kadang berarti juga penerimaan yang lebih tinggi dari pemilik sumber daya. Jika dipandang dari sisi penerimaan, pada tingkatan tertentu inflasi tidak buruk. Tetapi apa pun alasannya, inflasi yang tinggi jauh di atas pertumbuhan ekonominya tetap mengundang kepedihan dan kekecewaan bagi rakyat. Presiden Ford dan Carter tidak dipilih kembali untuk jabatan kedua karena keduanya tidak dapat mengendalikan in-flasi. Di era Presiden Reagan, inflasi me-nurun tajam sehingga ia kembali dipilih untuk masa jabatan kedua.

Dalam pemilihan presiden tahun 1988, George Bush menang antara lain karena mengingatkan pemilih akan keberhasilan Partai Republik menekan inflasi pada tahun 1980. Peningkatan harga BBM kali ini merupakan pukulan yang amat berat bagi pelaku usaha. Mereka yang terbiasa dengan harga BBM murah, kini dihadapkan pada satu kondisi yang memaksanya harus memikul ongkos BBM yang lebih tinggi. Reaksinya, harga barang akan dinaikkan untuk menekan biaya operasional yang terus membubung, dengan risiko tidak semua barang laku terjual atau bisa saja dengan mengurangi out put. Inilah yang menyebabkan terjadi stagflasi yaitu kombinasi inflasi tinggi dan penurunan produksi barang. Menurut perhitungan Bank Indonesia, inflasi tahun ini diperkirakan melampaui angka 9%. Berdasarkan data hingga Agustus 2005, inflasi sudah mendekati angka 8,5%, sehingga saya menduga tingkat inflasi tahun ini berkisar antara 10,5-12%.

Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan 5,6-6,2% mungkin tidak akan tercapai sehingga secara riil sebenarnya ekonomi kita tidak beranjak baik. Kondisi ini berbahaya dan tidak tertutup kemungkinan peristiwa 1998 akibat inflasi tinggi yang menyebabkan penurunan daya beli masyarakat mungkin akan terulang, sedangkan penurunan penawaran agregat atau produksi barang jelas akan menambah jumlah tenaga kerja yang di PHK. Stagflasi juga berarti terjadinya inflasi yang tidak terantisipasi sangat besar.

Sudah beberapa kali pemerintah membuat statemen tentang asumsi besaran inflasi dalam penyusunan APBN, namun jarang sekali secara riil mendekati realisasinya. Inflasi tak terantisipasi membuat banyak masalah, mengakibatkan redistribusi pendapatan dan kekayaan dari satu kelompok ke kelompok lain sehingga mengurangi kemampuan untuk membuat rencana jangka panjang dan memaksa mereka yang bertransaksi lebih memperhatikan harga-harga. Semakin sulit inflasi diramalkan dan semakin berfluktuasi, semakin sulit juga melakukan negosiasi jangka panjang. Keseluruhan produktivitas akan turun karena waktu lebih banyak dihabiskan untuk penyesuaian dengan ketidakpastian sehingga mengurangi waktu yang tersedia untuk produksi dan konsumsi.

1.      Antisipasi
Ada dua langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi kesakitan rakyat Indonesia, terutama golongan berpendapatan rendah dan tetap, yaitu berupaya secara terus - menerus menurunkan tingkat inflasi hingga setinggi-tingginya sama dengan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan cadangan devisa pada tingkat yang mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap pasar keuangan nasional sehingga stabilitas nilai tukar relatif terjaga.

Ke depan, siapa pun presidennya, dengan sistem nilai tukar rupiah yang mengambang mengikuti irama pasar, maka masalah perekonomian nasional akan selalu berawal dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Perubahan nilai tukar rupiah akan selalu menjadi sumber ketidakpastian ekonomi di masa datang dan ini merupakan konsekuensi dari sistem ekonomi terbuka yang dianut Indonesia.

Dibandingkan Korea Selatan dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, kecuali Singapura, Indonesia tergolong sangat liberal dalam transaksi keuangan cross border baik dalam valuta asing maupun rupiah. Hal ini dicerminkan oleh capital control index sebesar 0,35 terpaut hanya 0,05 dari Singapura yang nilainya 0,30. Sedangkan Korea Selatan, Malaysia, Thailand dan Filipina dengan nilai indeksnya berturut-turut adalah 0,77; 0,61; 0,60 dan 0,45. Makin besar nilai indeks, berarti pembatasan arus modalnya lebih ketat (Kurniati, 2000). Pengawasan modal dihindari karena dikhawatirkan akan mengurangi kepercayaan investor dan menghambat aliran modal masuk ke Indonesia dan perkembangan serta pendalaman pasar keuangan domestik. Terlebih Indonesia sangat tergantung pada aliran modal luar negeri dimana hingga tahun 1997, Indonesia merupakan net importir modal untuk memenuhi saving investment gap yang besar.

Kontrol modal tidak mungkin dilakukan hanya sekadar untuk menjaga stabilitas nilai tukar, karena untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi Indonesia masih memerlukan penanaman modal asing langsung. Untuk mengatasi tingkat inflasi dan jumlah pengangguran yang makin tinggi, pemerintah dalam jangka pendek ini harus berhati-hati dalam menerapkan kebijakannya. Kebijakan fiskal yang sifatnya ekspansif, untuk mendorong tingkat .output swasta guna mengurangi pengangguran, justru mungkin akan menimbulkan inflasi yang lebih hebat karena peningkatan yang pesat dari jumlah uang beredar tidak diimbangi dengan peningkatan penawaran agregat yang memadai.

Pemberian bantuan dana Rp. 100 ribu per keluarga miskin berpotensi inflasioner jika pihak swasta tidak meresponnya dengan baik. Oleh karenanya, untuk masa sekarang mungkin pemerintah sebaiknya mendorong terjadinya peningkatan out put dengan cara melakukan pemotongan tarif pajak. Pengurangan pajak, akan meningkatkan penghasilan swasta setelah pajak sehingga sektor swasta dapat kembali merekrut tenaga kerja dan sumber daya lain dalam jumlah yang lebih banyak.

Disamping cara tadi, agar perekonomian terhindar dari ancaman stagflasi, maka Pemerintah dan Bank Indonesia hendaknya memelihara kredibilitas dari setiap kebijakan yang sudah dibuat. Pengumuman yang disampaikan kepada masyarakat harus dapat dipercaya dan mempunyai kredibilitas yang tinggi. Masyarakat harus diyakinkan apa yang dilakukan oleh otoritas moneter dan fiskal benar-benar akan diterapkan sepenuhnya. Jika dalam perjalanannya, ternyata menyimpang maka pejabat yang bersangkutan harus berani mengundurkan diri. Mungkin ketika mengundurkan diri sebagai ekspresi tanggung jawab terhadap sebuah kegagalan telah menjadi budaya, ekspektasi masyarakat domestik dan internasional terhadap perekonomian Indonesia dipastikan akan lebih positip. Mudah-mudahan kita tidak seperti menunggu Godot.(11)

C.      DEFLASI
Dalam ekonomi, deflasi adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah.[1] Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar. Salah satu cara menanggulangi deflasi adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga. Dalam keuangan modern, deflasi didefinisikan sebagai meningkatnya permintaan terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat. Teori Jumlah Peredaran Uang (Quantity Theory of Money) didapatkan dari persamaan Fisher sebagai berikut:
MV = PT
Ket :
M : Money Supply atau Persediaan Uang di masyarakat
V : Velocity atau kecepatan perputaran uang.
P : Average Price Level atau tingkat harga rata-rata.
T : Total Number of transactions atau Jumlah Transaksi.

1.      Penyebab
Jadi dapat disimpulkan bahwa ada empat buah penyebab Deflasi :
1.      Menurunnya persediaan uang di masyarakat.
2.      Meningkatnya Persediaan Barang
3.      Menurunnya permintaan akan barang.
4.      Naiknya permintaan akan uang

2.      Dampak
Deflasi dapat menyebabkan menurunnya persediaan uang di masyarakat dan akan menyebabkan depresi besar (seperti yang dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat pasar Investasi (Saham) akan mengalami kekacauan.
Dikarenakan harga barang mengalami penurunan, konsumen memiliki kemampuan untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi (deflationary spiral).
Dampak susulan dari melesunya kegiatan ekonomi adalah banyak pekerja yang akhirnya mengalami PHK karena pemiliki bisnis tidak sanggup membayar gaji karyawannya (lha barang tidak laku, mau bayar dari mana?). Dengan demikian pendapatan yang diterima masyarakat menjadi sedikit dan jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin berkurang.
Dari sisi investasi, deflasi juga mengakibatkan melesunya investasi di sektor riil maupun di lantai bursa. Akibatnya ini akan menambah berat kelesuan ekonomi dikarenakan tidak ada lagi aktivitas bisnis yang berjalan.
Deflasi juga dapat menyebabkan suku bunga disuatu negara menjadi nol persen. Lalu diikuti juga dengan turunnya suku bunga pinjaman di bank. Ini memang merupakan langkah paliatif untuk mencegah masyarakat menyimpan uangnya di bank yang dapat membuat peredaran uang semakin kecil.
3.      Penanggulangan
Deflasi dapat diibaratkan jatuh sakitnya seseorang karena jarang berolah raga. Apabila seseorang pada dasarnya memiliki kaki normal namun malas menggunakannya, maka ini akan mengakibatkan menyusutnya otot-otot kaki yang jarang digunakan tersebut. Dalam jangka waktu lebih lama orang tersebut akan tidak dapat berjalan sama sekali berhubung otot sudah terlalu lemah untuk digunakan. Apabila keadaan ini justru didiamkan, bukan tidak mungkin akan mengalami kelumpuhan selamanya.

Hal ini parallel dengan deflasi. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan melatih kembali otot-otot yang sudah lama tidak digunakan. Meski memakan waktu lama, hal ini adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kekuatan otot yang melemah. Dengan kata lain untuk mencegah deflasi menjadi krisis ekonomi besar, pemerintah dan semua pihak yang terkait harus bersepakat untuk memulai kembali kegiatan ekonomi yang sempat terhenti karena salah urus tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang tidak sedikir. Lazim dikatakan oleh para analis eknonomi bahwa deflasi merupakan kondisi krisis moneter yang sebenarnya tidak memiliki obat yang efektif. Apabila pada inflasi Bank Sentral dapat menaikkan suku bunga untuk menahannya, menurunkan suku bunga bahkan hingga nol persen bukanlah jalan keluar bagi deflasi. Pasalnya ini akan membuat pemasukan pemerintah menjadi nol juga atau bahkan negative. Belum lagi hal ini akan memicu aksi spekulan luar negeri yang dapat menjalankan Carry Trade sehingga nilai uang justru menjadi jatuh. Akibatnya, biaya impor menjadi terbebani sementara ekspor tidak menunjukkan kenaikan signifikan berhubung melemahnya mata uang disebabkan oleh aksi spekulan semata-mata.
Cara yang paling lazim digunakan adalah memberikan stimulus ekonomi berupa bantuan likuiditas ke sektor bisnis. Dengan demikian diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar. Pemerintah juga dapat memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk menggairahkan perekonomian. Dari sisi Bank Sentral, pemerintah juga dapat meningkatkan peredaran uang di masyarakat dengan membeli surat hutang sektor swasta dan menukarkannya dengan uang tunai. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan memotong suku bunga. Namun seperti dijelaskan di atas, memotong suku bunga bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya tetapi hanya sekedar pengobatan sementara untuk menggairahkan ekonomi dan mengharapkan harga bergerak naik dengan sendirinya.

4.      Mencermati Deflasi Januari

2009 Februari 17
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa bulan Januari ini terjadi deflasi lagi sebesar 0,07% seperti halnya bulan Desember 2008 yang mengalami deflasi sebesar 0,04%. Penurunan harga BBM khususnya premium dan solar yang diikuti penurunan tarif angkutan umum mampu menekan tingkat inflasi pada Januari.
Menurut BPS terdapat hal pokok yang mendorong terjadinya deflasi adalah dampak langsung penurunan premium dan solar yang diikuti oleh intervensi pemerintah untuk menurunkan tarif angkutan, serta adanya penurunan sejumlah harga dan indeks di kelompok perumahan, air, listrik, dan gas. Penurunan harga BBM bersubsidi diharapkan akan mampu menimbulkan second round effect atau efek lanjutan pada perekonomian, termasuk turunnya tarif angkutan barang sehingga bisa dijadikan faktor pendorong penuruan harga.

a.      Deflasi Sebenarnya?
Tapi kita perlu mencermati lebih jauh, benarkah akan terjadi deflasi dalam arti yang sebenarnya? Atau deflasi yang terjadi sebenarnya menujukkan turunnya daya beli masyarakat pascakenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang terus datang secara beruntun sejak pertengahan tahun lalu dan maraknya PHK pasca pelemahan ekonomi global? Deflasi memang bisa terjadi akibat meningkatnya pengangguran sehingga menurunkan demand terhadap produk barang dan jasa (deflationary gap).

Pemahaman yang akurat mengenai penyebab deflasi Januari 2009 ini akan sangat membantu pemerintah dalam mengelola tingkat inflasi tahun ini agar sesuai pada level yang diharapkan. Pada level yang manageable, inflasi menunjukkan adanya geliat pertumbuhan ekonomi sedangkan deflasi yang terus-menerus menunjukkan adanya resesi. Dengan memahami faktor yang mempengaruhi deflasi ini, pemerintah bisa menentukan fokus kebijakan ekonomi ke depan.

Deflasi terjadi pada bulan Januari disebabkan turunnya harga komoditas yang diatur pemerintah (administered price) yang diikuti penurunan akan permintaan barang. Hal ini perlu diwaspadai karena mengindikasikan adanya kelesuan pasar yang kemudian bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah masih mengharapkan terjadinya second round effect pada bulan Februari ini. Tetapi hal itu bisa saja tak terjadi. Kondisi ini tercermin dari kenyataan bahwa setelah harga BBM turun pengusaha angkutan tak ingin menurunkan tarif secara substansial dengan alasan BBM hanya salah satu bagian dari struktur tarif disamping harga suku cadang dan biaya perawatan. Hal seperti inil bisa mengurangi tekanan penurunan harga, sehingga efek lanjutan yang diharapkan tak akan bisa maksimal didapat.

Belum lagi faktor alam yang saat ini kurang bersahabat bisa menyebabkan gangguan pada suplai bahan pangan, misalnya beberapa sentra produksi beras yang terancam banjir dan seperti disadari BPS sendiri, cuaca buruk serta gelombang tinggi dapat mengganggu suplai hasil laut. Cuaca buruk ini juga bisa membuat distribusi barang ke daerah-daerah menjadi terganggu. Seperti terlihat dari data BPS, bahan makanan tetap mencatat inflasi meski telah terjadi penurunan harga BBM hingga tiga kali.
Sistem Distribusi

Dari gambaran di atas terlihat bahwa dalam struktur ekonomi Indonesia selama ini, terdapat dua komponen utama yang sangat mempengaruhi tingkat inflasi, yakni kelompok makanan dan transportasi.
Pemerintah memiliki peran besar dalam mepengaruhi tingkat harga di dua kelompok itu. Terdapat beberapa cara bagi pemerintah untuk bisa mengendalikan tingkat inflasi di dua kelompok utama tersebut. Pertama dengan melakukan subsidi atas komoditas makanan dan BBM. Tapi langkah ini tak lagi bisa diambil terkait sustainability anggaran belanja yang kini memiliki defisit yang sangat besar.

Satu-satunya jalan tersisa adalah dengan peningkatan efisiensi perekonomian. Kita sadar ini pasti butuh waktu yang sangat panjang, mengingat distorsi terhadap mekanisme perekonomian kita yang terlanjur parah. Berbagai paket kebijakan untuk melakukan reformasi birokrasi dan penciptaan iklim kondusif bagi dunia usaha sampai saat ini tak pernah diketahui kelanjutannya.

Tapi dalam jangka pendek tetap ada yang bisa dilakukan. Penghematan yang berhasil dilakukan dengan turunnya harga minyak sebaiknya disalurkan ke sektor-sektor yang bisa memancing pertumbuhan dan penyediaan lapangan kerja. Pemerintah baru saja merevisi stimulus fiskal yang diajukan awal bulan ini dimana salah satu poin utama revisi itu adalah alokasi stimulus fiskal ke sektor infrastruktur. Kita sangat berharap kebijakan ini bisa segera dijalankan sehingga mampu menjadi faktor yang bisa memperbaiki sistem distribusi barang dan jasa. Bukan sekedar paket pemanis menjelang pemilu.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pengertian Inflasi
Ditulis oleh gio akram
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://gioakram13.blogspot.com/2013/04/pengertian-inflasi.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

3 komentar:

gio akram mengatakan...

tes

Anita Nita mengatakan...

terima kasih

gio akram mengatakan...

Sama-sama..! smga membantu

Posting Komentar